10 Kerajaan Islam Di Indonesia beserta Peninggalannya

Kerajaan Islam Di Indonesia

10 Kerajaan Islam Di Indonesia beserta Peninggalannya – Jika ditelusuri Sejarah masuknya Agama islam ke Indonesia dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor,salah satunya yaitu karena Indonesia adalah Negara pemeluk Agama Islam terbesar di dunia,masyarakat indonesia dikenal sopan dan ramah,oleh karena itu tidak heran banyak wisatawan yang datang berkunjung ke Indonesia

Selain untuk berwisata bahari wisatawan juga datang untuk melakukan proses perdagangan. Indonesia memiliki hasil bumi dan laut yang sangat melimpah, ini dikarenakan indonesia terletak pada jalur perdagangan dunia.

Sejarah masuknya Islam ke Indonesia

Banyak teori yang berpendapat tentang masuknya islam ke indonesia. Beberapa ahli mengatakan masuknya islam ke indonesia sekitar abad ke-7 Masehi sampai dengan abad ke-8 Masehi. Ada pula yang berpendapat bahwa islam masuk ke indonesia pada abad ke-11 sampai abad ke-13 Masehi. Berikut Proses perkembangan agama islam di wilayah indonesia :

1.Perkembangan Islam pada Abad ke 7 Masehi

Berita tentang perkembangan islam di indonesia pada abad ke-7 Masehi ini dibawa oleh pedagang-pedagang yang berasal dari arab. Pedagang-pedagang arab menjalin hubungan kerja sama dengan indonesia dalam bidang ekonomi. Para pedagang arab masuk melalui pantai Sumatra Utara atau wilayah Samudra Pasai. Tempat ini dianggap menjadi daerah pertama yang mendapat pengaruh islam. Dari daerah Samudra Pasai menyebar ke Selat Malaka lalu ke pulau Jawa. Berita tentang masuknya islam di indonesia pada abad ke-7 Masehi didasarkan dari berita Dinasti Tang dari Cina yang menyebutkan bahwa orang-orang Arab dan Persia yang mengurungkan niatnya untuk menyerang Ho Ling dibawah kepemimpinan Ratu Sima pada tahun 647 Masehi.

2.Perkembangan Islam pada Abad ke 11 Masehi

Perkembangan Islam pada abad ke-11 Masehi dibuktikan dengan penemuan makam Fatimah Binti Maimun di Leran Manyar, Gresik. Pada makam Fatimah Binti Maimun terdapat prasasti dengan tulisan 1082 Masehi.

3.Perkembangan Islam pada Abad ke 13 Masehi

Perkembangan Islam pada abad ke-13 Masehi diperkuat dengan beberapa bukti yaitu :

a. Catatan Marcopolo yang menyatakan bahwa menemukan Kerajaan Islam Ferlec di Aceh pada tahun 1292 M.

b. K.F.H. van Langen dari Cina yang menyebutkan melihat Kerajaan Pase (mungkin yang dimaksud Kerajaan Pasai) dapa tahun 1298 M.

c. R.A Kern, C. Snouck Hurgronje, dan Schrieke lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M.

d. J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M.

e. Teori Gujarat menyatakan bahwa islam masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari Gujarat dan India pada abad ke-13 M.

f. Teori Persia yang menyatakan bahwa islam masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang asal Persia yang singgah di Gujarat sebelum ke Indonesia sekitar abad ke-13 M.

Kerajaan Islam di Indonesia

1.Kerajaan Islam Tidore

Kerajaan Islam Tidore terletak di sebelah selatan kerajaan Ternate. Berdiri pada tahin 1801 dengan raja pertama yaitu Muhammad Naqil. Agama islam menjadi agama resmi kerajaan Tidore dan disahkan oleh raja Tidore ke-11 yaitu Sultan Djamalludin berkat dakwah dari Syekh Mansur dari Arab. Kerajaan Tidore juga dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terbesar di Maluku. Banyak bangsa Eropa yang melakukan perdagangan di kerajaan Tidore seperti Spanyol, Portugis dan Belanda. Kesrajaan Islam Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M).

Dengan sumber rempah-rempah yang banyak dari Tidore dan Ternate membuat Spanyol mengadu domba dua kerajaan maju ini. Hal ini menyebabkan 2 persekutuan yang memecah belah persatuan masyarakat Maluku. Persekutuan 5 (=uli-Lima) dipimpin oleh Ternate dan Persekutuan 9(=uli-Siwa) dipimpin oleh Tidore. Namun dua kerajaan ini sadar bahwa hanya di adu domba dan tidak mau bermusuhan dengan negara sendiri. Maka mereka menyatukan kekuatan untuk mengusir Spanyol dari Maluku. Tapi kemenangan itu hanyalah sementara, karena VOC berhasil menguasai Maluku dengan strategi yang rapi, teratur, dan kuat. Peninggalan bersejarah Kerajaan Islam Tidore adalah Benteng Tore, Keraton Tidore.

2.Kerajaan Islam Banten

Kerajaan Islam Banten didirikan oleh Hasanudin pada tahun 1552 di Banten. Ia mendapat mandat untuk memimpin Kerajaan Islam Banten oleh ayahnya, Raden Fatahillah. Kerajaan Islam Banten dibawah pimpinan Hasanudin semakin kuat dan memperluas daerah kekuasannya. Hasanudin dan ayahnya sangatlah giat dalam menyiarkan agama islam sewaktu Kerajaan Pakuan Pajajaran masih menganut agama hindu. Ini menyebabkan Kerajaan Pakuan Pajajaran semakin lemah dan terpuruk. Hasanudin memperluas daerah kekuasaan hingga lampung dan mempersunting Putri Sultan Indrapura.

Setelah Hasanudin wafat digantikan oleh Pangeran Yusuf sebagai anaknya. Pada tahun 1580 Pangeran Yusuf wafat dan digantikan oleh Maulana Muhamad. Di bawah pimpinan Maulana Muhamad, Kerajaan Islam Banten memperluas daerah kekuasaannya hingga ke Palembang. Palembang saat itu dipimpin oleh Ki Gede Ing Suryo yang berasal dari surabaya, dan hampir jatuh ke tangan kerajaan Islam Banten. Namun ditengah peperangan Maulana Muhamad gugur, dan tentara dikembalikan ke Banten.

Setelah Maulana Muhamad wafat, seharusnya digantikan oleh anaknya Abdul Mufakir. Namun waktu itu Abdul Mufakir baru berusia 5 bulan, maka kerajaan islam Banten dipimpin oleh seorang mangkubumi. Setelah Abdul Mufakir dewasa, beliau memimpin kerajaan didampingi oleh Pangeran Ranamenggala dan mengalami masa kejayaan sampai pada tahun 1600. Kemunduran kerajaan Islam Banten terjadi sejak masa pemerintahan Sultan Abdul Mufakkir di mana Belanda terus melakukan blokade-blokade yang mengakibatkan sempitnya ruang gerak kerajaan Islam Banten.

Peninggalan bersejarah dari kerajaan Islam Banten adalah Masjid Agung Banten, Istana Keraton Kaibon Banten, Istana Keraton Surosowan Banten, Benteng Speelwijk, Danau Tasikardi, Vihara Avalokitesvara, Meriam Ki Amuk, Mahkota Binokasih, Keris Penunggul Naga, Keris Naga Sasra.

3.Kerajaan Demak

Kerajaan islam pertama dipulau jawa adalah Kerajaan Demak yang berdiri dari tahun 1478 dengan pimpinan Raden Patah. Sebelumnya Demak yang masih bernama Bintoro merupakan daerah vasal Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada Radeen Patah. Daerah kekuasaan kerajaan Demak mencakub Banjar, Palembang, Maluku, serta bagian utara pantai pulau jawa. Pada saat itu ulama memegang peran penting dalam masyarakat dengan pengangkatan Sunan Kalijaga dan Ki Wanalapa sebagai penasehat kerajaan. Pada tahun 1507 Raden patah digantikan oleh putranya yaitu Pati Unus.

Pati Unus masih banyak mengalami kegagalan saat memimpin kerajaan Demak. Namun karena keberanian Pati Unus untuk menyerang portugis yang berada di Malaka, maka Pati Unus dijuluki sebagai Pangeran Sabrang Lor. Pada tahun 1521 Pati Unus wafat dan digantikan oleh adiknya bernama Trenggana, dan mengalami masa kejayaan. Kerajaan Demak mengalami kehancuran karena terjadi perang saudara untuk memperebutkan tahta di Kerajaan Demak.

Contoh peninggalan bersejarah Kerajaan Demak adalah Masjid Agung Demak, Pintu Bledek, Soko Tatal dan Soko Guru, Bedug, Kentongan, Situs Kolam Wudhu, Makrusah, Dampar Kencana, Piring Campa.

4.Kerajaan Islam Banjar

Kerajaan Islam Banjar berdiri pada tahun 1520 di provinsi Kalimantan Selatan dibawah pimpinan Raden Samudra. Kemunculan kerajaan Islam Banjar berhubungan erat dengan runtuhnya Kerajaan Nagaradaha (Kerajaan Daha) yang saat itu menguasai daerah banjar. Dengan bantuan kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam Banjar dapat meruntuhkan kerajaan Daha. Untuk mendapatkan bantuan dari Kerajaan Demak, Kerajaan Islam Banjar harus memeluk agama islam. Proses islamisasi dilakukan oleh kerajaan Demak dengan cukup pesat. Masyarakat suku bugis disungai bagian Timur Kalimatan banyak menganut agama islam. Di kerajaan Islam Banjar terdapat ulama yang sangat terkenal yaitu Syeh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Setelah Raden samudra wafat digantikan oleh Sultan Rahmatullah (1545-1570) , lalu Sultan Hidayatullah (1570-1595), Sultan Mustain Billah (1595-1620), Ratu Agung bin Marhum (1620-1637), Ratu Anum (1637-1642), Adipati Halid (1642-1660), Amirullah Bagus Kusuma (1660-1663), Pangeran Adipati Anum ( 1663-1679), Sultan Tahlilullah (1679-1700), Sultan Tahmidullah (1700-1734), Pangeran Tamjid bin Sultan Agung (1734-1759), Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah (1759-1761), Pangeran Nata Dilaga (1761-1801), Sultan Suleman Al Mutamidullah bin Sultan Tahmidullah (1801-1825), Sultan Adam Al Wasik Billah bin Sultan Suleman (1825-1857), Pangeran Tamjidillah (1857-1859), Pangeran Antasari (1859-1862), dengan raja Kerajaan Islam Banjar terakhir yaitu Sultan Muhammad Seman (1862-1905).Peninggalan Bersejarah Kerajaan Islam Banjar adalah Candi Agung Amuntai dan Masjid Sultan Suriansyah.

Baca juga :

5.Kerajaan Islam Makassar

Di Sulawesi Selatan terdapat beberapa kerajaan Gowa, Bone, Waju, Luwu, Tallo, dan Soppeng. Namun kerajaan Gowa dan Tallo mengalami perkembangan yang pesat. Dikarenakan letak Gowa dan Tallo yang berada ditengah jalur pelayaran. Maka raja kedua kerajaan maju itu memutuskan untuk bergabung dan mendirikan Kerajaan Islam Makassar dengan raja pertamanya adalah Sultan Alauddin. Kerajaan Islam Makassar ini pula giat dalam menyebarkan agama islam. Kerajaan Islam Makassar mencapai puncak kejayaannya ketika diperintah Sultan Hasanuddin berkuasa (tahun 1654-1669). Sultan Hasanuddin adalah cucu dari Sultan Alauddin. Namun Belanda tidak begitu saja menyerah untuk menguasai kerajaan Makassar. Sultan Hasanuddin sangat gigih dan kuat untuk menghadapi Belanda.

Saat terjadi perseteruan antara Sultan Hasanuddin dengan Aru Palaka (Raja Bone dan Raja Soppeng) dimanfaatkan oleh Belanda untuk melakukan adu domba. Belanda memihak pada Aru Palaka dan memerangi Sultan Hasanuddin. Dalam peperangan ini makassar hampir jatuh ketangan Belanda dan Aru Palaka, mengakibatkan Sultan Hasanuddin membuat perjanjian damai yang dikenal dengan Perjanjian Bongaya pada tahun 1667.

Walaupun sudah menandatangani perjanjian damai, Belanda tetap licik dan kembali menyerang Makassar. Pada tahun 1669 Sultan Hasanuddin menyerah kepada Belanda dan menjadi awak kehancuran Kerajaan Islam Makassar. Peninggalan bersejarah Kerajaan Islam Makassar adalah Benteng Ford Ratterdam, Batu Pallantikang, Masjid Katangka, Kompleks Makam Katangka, Makam Syekh Yusuf.

6.Kerajaan Sukadana atau Tanjungpura

Ibukota Kerajaan Tanjungpura beberapa kali mengalami perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa penyebab Kerajaan Tanjungpura berpindah ibukota adalah terutama karena serangan dari kawanan perompak (bajak laut) atau dikenal sebagai Lanon. Konon, pada masa itu sepak-terjang gerombolan Lanon sangat kejam dan meresahkan penduduk. Kerajaan Tanjungpura dipimpin oleh Sultan Muhammad Zainuddin (1665– 1724). Gusti Kesuma Matan atau Giri Mustika atau Sultan Muhammad Syaifuddin/Raden Saradipa/Saradewa (1622–1665) menjadi raja terakhir yang memimpin kerajaan Islam Sukadana atau Tanjungpura.

Bukti Peninggalan bersejarah kerajaan Islam Sukadana atau Tanjungpura adalah adanya Negeri Batu, makam tua di kota yang pernah ditempati kerajaan Sukadana.

7.Kerajaan Islam Mataram

Kerajaan Islam Mataram didirikan oleh Sutowijoyo pada tahun 1586. Kerajaan Islam Mataram terletak di Kotagede, sebelah tenggara kota Yogyakarta. Pada tahun 1601 Sutowijoyo wafat dan digantikan oleh Mas Jolang atau Penembahan Seda ing Krapyak. Pada pemerintahan Mas Jolang atau Penembahan Seda ing Krapyak banyak terjadi pemberontokan. Lalu Mas Jolang atau Penembahan Seda ing Krapyak mengirimkan pasukan tentara untuk melawan pemberontakan itu. Sayangnya sebelum selesai untuk menumpas pemberontakan, Mas Jolang wafat terlebih dahulu. Lalu Mas Jolang digantikan oleh Adipati Martapura, tetapi akhirnya Adipati Martapura wafat karena sakit-sakitan. Setelah itu digantikan oleh Mas Rangsang, dan mengalami kenaikan di beberapa sektor. Mas Rangsang sebagai raja yang lebih terkenal dengan sebutan Sultan Agung.

Peninggalan Bersejarah dari Kerajaan Oslam Mataram yaitu Sastra Gendhing karya dari sultan Agung, Tahun Saka, Kerajinan perak, Kalang Obong, Kue Kipo, Batu Datar, Pakaian kyai Gundhil, Gapura Makan Kotagede.

8.Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudra Pasai berdiri pada abad ke-13 M setelah kehanduran Kerajaan Sriwijaya dengan pendiri bernama Sultan Malik al Saleh. Letak Kerajaan Samudra Pasai berada di daerah Aceh Utara di Kabupaten Lokseumawe. Kerajaan Samudra Pasai merupakan gabungan dari kerajaan Pase dan Peurlak. Pada tahun 1297 Sultan Malik al Saleh wafat dan digantikan oleh Sultan Mahmud sebagai putra Sultan Malik al Saleh dari perkawinannya dengan putri Raja Peurlak. Selanjutnya Kerajaan Samudra Pasai dipimpin oleh Sultan Malik Al Tahir pada tahun 1326. Pada masa pemerintahan Sultan Malik Al Tahir, koin emas sebgai mata uang di Kerajaan Samudra Pasai. Seiring perkembangannya Pasai menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama islam. Setelah Sultan Malik Al Tahir wafat digantikan oleh Sultan Mahmud Malik az- Zahir sampai tahun 1345.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai, kemudian ia juga menempatkan salah seorang anaknya yaitu Sultan Mansur di Samudera. Namun pada masa Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yang tetap berpusat di Pasai. Pada masa pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Lide (Kerajaan Pedir) disebutkan menjadi kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara itu Pasai juga disebutkan memiliki hubungan yang buruk dengan Nakur, puncaknya kerajaan ini menyerang Pasai dan mengakibatkan Sultan Pasai terbunuh. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun 1521 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

Beberapa peninggalan bersejarah dari Kerajaan Samudra Pasai adalah Cakra Donya , Naskah Surat Sultan Zainal Abidin , Makam Sultan Malik al Saleh, Makam Zain al-Abidin Malik az-Zahir, stempel kerajaan Samudra Pasai, Makam Ratu Al-Aqla.

9.Kerajaan Islam Panjang

Kerajaan Islam Panjang didirikan oleh Sultan Adiwijoyo atau Jaka Tingkir pada tahun 1568. Sultan Adi Wijaya berhasil mengalahkan Arya Penangsang dan memindahkan kerajaan demak ke daerah panjang, dan inilah awal mula berdirinya kerajaan Islam Panjang. Setelah Sultan Adi Wijaya wafat pada tahun 1582 dan digantikan oleh putranya yitu Pangeran Benowo. Tetapi Pangeran Arya Pangiri dari Demak mencoba untuk merebut kekuasaan di kerajaan Islam Panjang dari tangan Pangeran Benowo tapi mengalami kegagalan. Lalu Pangeran Benowo menyerahkan tahta kepada saudara angkatnya bernama Sutowijoyo. Namun Sutowijoyo memindahkan Kerajaan Islam Panjang ke daerah mataram dan menjadi awal kehancuran kerajaan Islam Panjang.

10.Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh berdiri pada tahun 1514. Sultan Ibrahim atau Ali Mugayat Syah adalah raja pertama Kerajaan Aceh Darussalam. Sultan Ali Mugayat Syah memerintah Kerajaan Aceh Darussalam selama 10 tahun, menurut prasasti yang ditemukan pada batu nisan Sultan Ali Mugayat Syah. Walaupun Sultan Ali Mugayat Syah memimpin hanya sebentar, tetapi beliau membuah kerajaan Aceh Darussalam menjadi kokoh dan besar. Kerajaan Aceh Darussalam terletak didaerah yang sekarang bernama Aceh Besar. Kerajaan Aceh Darussalam berjaya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607 sampai 1636.

Kemunduran Kerajaan Aceh Darussalam disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ialah makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Tiku, Tapanuli, Mandailing, Deli, Barus serta Bengkulu kedalam pangkuan penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan di antara pewaris tahta kesultanan.

Contoh peninggalan prasejarah dari Kerajaan Aceh Darussalam adalah Masjid Raya Baiturrahman, Benteng Indrapatra, Gunongan, Makam Sultan Iskandar Muda, Mariam kerajaan Aceh Darussalam, dan uang emas kerajaan Aceh Darussalam.

Related posts