KEHIDUPAN MANUSIA PADA ZAMAN PRASEJARAH

manusia jaman prasejarah

Kehidupan pada zaman prasejarah – Sekarang ini kita akan membahas Zaman prasejarah yaitu zaman dimana manusia yang hidup pada zaman tersebut belum mengenal tulisan ataupun mengenal cara bercocok tanam yang umumnya sekarang disebut bertani. Berakhirnya zaman prasejarah di setiap negara tidak sama tergantung peradaban negara itu sendiri. Masa berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia diperkirakan pada masa berdirinya kerajaan Kutai,Kertanegara.

Secara umum, masa prasejarah di Indonesia dibagi menjadi 2 golongan. Berdasarkan bahan untuk membuat alat/perkakas dibagi menjadi zaman batu dan zaman logam, lalu berdasarkan kemampuan yang dimiliki masyarakat dibagi menjadi masa berburu, mengumpulkan makanan, bercocok tanam, dan perundagian.

A.  Zaman batu

pada zaman batu, dibagi lagi menjadi 4 zaman, yaitu sebagai berikut:

1.Palaeolithikum (masa mengumpulkan makanan tingkat awal)

Zaman palaeolithikum berarti zaman batu tua. Zaman ini ditandai dengan adanya perkakas yang terbuat dari batu yang masih kasar, sederhana, dan sangat primitif. Ciri-ciri masyarakat yang hidup pada zaman ini adalah:

  1. Hidup berkelompok dengan anggota yang tidak banyak(untuk melindungi diri dari serangan hewan buas)
  2. Belum dapat bercocok tanam
  3. Hidup nomaden
  4. Biasanya tinggal di dekat perairan/sumber air
  5. Belum mengenal estetika/masih primitif
  6. Mencari makanan dengan cara berburu.

2.Mesolithikum (masa mengumpulkan tingkat lanjutan)

Disebut juga zaman batu madya/tengah. Diperkirakan mulai pada akhir zaman es atau 10.000 tahun yang lalu. Manusia pada zaman ini sama seperti manusia pada zaman palaeolithikum, yaitu masih berburu untuk mendapatkan makanan. Namun bedanya, manusia pada masa ini sudah mulai menetap atau mempunyai tempat tinggal tetap. Ciri-ciri masyarakat pada masa ini adalah:

  1. Sudah mengenal rasa estetika
  2. Masih belum dapat bercocok tanam/bertani
  3. Menjadikan gua sebagai tempat tinggal/berlindung

Terdapat 2 kebudayaan yang menjadi patokan pada zaman ini, yaitu:

  1. Kjokkenmoddinger

Berasal dari bahasa Denmark Kejokken  yang berarti dapur & Moddinger yang berarti sampah (kjokkenmoddinger = sampah dapur). Dalam kaitannya dengan budaya manusia, kjokkenmoddinger berarti tumpukkan sampah kerang dan kulit siput yang berada di sepanjang pantai Sumatera Timur antara Langsa di Aceh sampai Medan. Dibawah tumpukkan sampah ini terdapat kapak sumatera/pebble dan batu pipisan. 

    2. Abris Sous Roche

yang berarti gua-gua yang pernah dihuni oleh manusia-manusia pada zaman ini. Dugaan ini muncul dari penemuan perkakas seperti ujung panah, flakes, batu penggilingan, alat-alat dari tulang dan tanduk, yang tertinggal di dalam gua.

Para ahli memperkirakan manusia yang hidup pada zaman ini adalah bangsa melanesoid yang mirip nenek moyang orang Papua, Sakai, Aeta, dan Aborigin.

3.Neolithikum (masa bercocok tanam)

Neolithikum berarti zaman batu muda. Pada zaman ini, manusia sudah mengenal bercocok tanam dan berternak. Pada masa ini, manusia mengalami revolusi besar-besaran. Mereka sudah meninggalkan kebudayaan hidup nomaden dan sudah pandai membuat tempat tinggal yang nyaman. Pada zaman ini pula, alat/perkakas yang dibuat sudah dipoles halus dengan indah. Kerajinan-kerajinan tangan juga mulai dibuat. Manusia akhirnya mengenal apa itu gotong royong dan kerja sama, dan juga pembagian kerja.

Alat-alat yang dihasilkan antara lain:

  1. Kapak persegi, misalnya beliung, pacul, dan torah yang banyak terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Kalimantan,
  2. Kapak batu (kapak persegi berleher) dari Minahasa,
  3. Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah) ditemukan di Jawa,
  4. Pakaian dari kulit kayu, dan
  5. Tembikar (periuk belaga) ditemukan di Sumatera, Jawa, Melolo (Sunda).

Manusia pendukung pada zaman ini adalah Austronesia (austria), Austro-Asia (khamer-indocina).

  1. Megalithikum

Setelah zaman Neolithikum, berkembanglah zaman Megalithikum atau zaman batu besar. Sesuai dengan namanya, pada zaman ini kebudayaan yang dihasilkan adalah menggunakan batu-batu besar, antara lain:

  1. Menhir: tugu batu yang dibangun untuk pemujaan terhadap arwah-arwah nenek moyang.
  2. Dolmen: meja batu tempat meletakkan sesaji untuk upacara pemujaan roh nenek moyang.
  3. Sarchopagus/keranda atau peti mati (berbentuk lesung bertutup).
  4. Punden berundak: tempat pemujaan bertingkat.
  5. Kubur batu: peti mati yang terbuat dari batu besar yang dapat dibuka-tutup.
  6. Arca/patung batu: simbol untuk mengungkapkan kepercayaan mereka.

Pada zaman ini, manusia telah mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme merupakan kepercayaan terhadap nenek moyang yang mendiami sebuah benda. Sementara itu, dinamisme adalah kepercayaan terhadap segala sesuatu memiliki kekuatan dan tenaga dari alam ghaib yang dapat memengaruhi kegagalan dan keberhasilan dalam kehidupan manusia. Pun manusia pada zaman ini sudah dapat memerlakukan orang yang sudah meninggal dengan baik, berdasarkan bukti artefak yang sudah disebutkan di atas.

B. Zaman logam

Zaman logam terbagi lagi menjadi 3 zaman: zaman besi, tembaga, dan perunggu. Indonesia hanya mengalami zaman perunggu dan zaman besi. Pada zaman ini, manusia mengalami masa perundagian, karena manusia sudah banyak yang menghasilkan berbagai kerajinan tangan, yang terbuat dari logam. Manusia sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat yang diinginkan. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue.

  1. Zaman perunggu

Zaman perunggu hanyalah untuk menyatakan jika manusia lebih banyak menggunakan alat – alat dari perunggu. Disebut zaman perunggu karena pada masa ini manusianya telah memiliki kepandaian dalam melebur perunggu. Di kawasan asia tenggara penggunaan logam dimulai tahun 3000-2000 SM. Pada zaman Perunggu disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tongkin China (pusat kebudayaan ini) manusia sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.

Berikut adalah kebudayaan peninggalan zaman perunggu:

  1. Kapak Corong (Kapak perunggu, termasuk golongan alat perkakas) ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, Irian Jaya
  2. Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang yang digunakan sebagai maskawin. Ditemukan di Sumatera, Jawa-Bali, Sumbawa, Roti, Selayar, Leti
  3. Benjana Perunggu ditemukan di Madura dan Sumatera.
  4. Arca Perunggu ditemukan di Bang-kinang (Riau), Lumajang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat)

Kebudayaaan zaman perunggu merupakan hasil asimilasi dari antara masyarakat asli Indonesia ( proto melayu ) dengan bangsa mongoloid sehingga membentuk ras  deutro melayu ( melayu muda ).

  1. Zaman besi

Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C. Alat besi yang banyak ditemukan di Indonesia berupa alat keperluan sehari – hari seperti pisau, sabit, mata kapak, pedang, dan mata tombak. Pembuatan alat besi memerlukan tehnik khusus yang mungkin hanya dimiliki oleh sebagian anggota masyarakat, Yakni golongan undagi.

Alat-alat besi yang dihasilkan antara lain:

  1. Mata Kapak bertungkai kayu
  2. Mata Pisau
  3. Mata Sabit
  4. Mata Pedang
  5. Cangkul

Alat-alat tersebut ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor (Jawa Barat), Besuki dan Punung (Jawa Timur).

Semoga informasi tentang Kehidupan Manusia di Jaman Prasejarah ini dapat membantu para pembaca dalam mengenal kehidupan masyarakat prasejarah di Indonesia.

Related posts