Peninggalan Jaman Prasejarah dan Kota Jakarta

Jaman Prasejarah dan Kota Jakarta

Peninggalan Jaman Prasejarah dan Kota Jakarta – Sebutan Kota Metropolitan bagi Jakarta di balik hiruk pikuk kehidupan masyarakatnya,ternyata kota Jakarta memiliki Sejarah yang Panjang,jika menengok situasi Jakarta sekarang,siapa sangka jika ribuan tahun silam,kota Jakarta merupakan tempat tinggal masyarakat Prasejarah.

Hal ini dapat diketahui dari sejumlah situs arkeologi dari masa prasejarah yang diketemukan di beberapa tempat seperti Pasar Minggu, Pasar Rebo, Jatinegara, Karet, Kebayoran, Kebon Sirih, Kebon Nanas, Cawang, Kebon Pala, Rawa Belong, Rawa Bangke.

Bukan tanpa alasan. Keberadaan masa prasejarah di Jakarta dibuktikan dengan adanya penemuan benda-benda yang sederhana. Sebut saja, kapak batu, serpih bilah, serta benda-benda lain yang terbuat dari gerabah, manik-manik, kapak perunggu dan sebagainya.
Peninggalan arkeologis dari masa prasejarah di Jakarta, yang paling banyak adalah dalam bentuk pecahan gerabah. Bukti-bukti tersebut diperoleh dari hasil survei dan penggalian arkeologi di beberapa tempat antara lain di sepanjang sungai Ciliwung (Condet, Pasar Minggu, Kampung Kramat), Buni, Kelapa Dua dan Bukit Kucong.
Dari aneka temuan tersebut, masa prasejarah Jakarta berlangsung selama dua periode berdasarkan masanya, antaranya lain Zaman Batu atau Neolitikum, yakni masa bercocok tanam antara tahun 3000 Sebelum Masehi hingga 1000 Masehi. Kedua, zaman Logam atau masa perundingan antara 1000 Sebelum Masehi hingga 500 Masehi.

Berdasarkan hasil pengamatan pada ruang koleksi prasejarah Museum Sejarah Jakarta, benda-benda yang berasal dari masa prasejarah Jakarta jumlahnya memang tidak begitu banyak.

Namun, aneka peninggalan arkeologi yang ada telah menunjukkan bahwa masa prasejarah pernah berlangsung di Jakarta. Sejak ribuan tahun lalu, Jakarta telah menjadi tempat tinggal bagi manusia.

Baca juga : 10 Pertempuran Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Salah satu koleksi prasejarah yang menarik perhatian di ruang koleksi prasejarah Museum Sejarah Jakarta adalah Kapak Perunggu. Seperti kapak zaman sekarang, kapak perunggu (bronze axe) juga digunakan untuk memotong dan membelah, terutama kayu.

Alat ini ditemukan di sejumlah situs prasejarah di Jakarta, antara lain di Kampung Kramat dan Pejaten. Dua situs ini malah diyakini sebagai sentra pembuatan kapak perunggu karena berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan, di situs Pejaten dan Kampung Kramat juga ditemukan terak logam serta di Pejaten ditemukan alat cetakan logam. 

Dari sekian banyak situs prasejarah Jakarta, situs Buni yang berlokasi di Kabupaten Bekasi dan sekitarnya adalah yang paling menonjol. Para arkeolog menganggap situs Buni merupakan sebuah kompleks kebudayaan gerabah. Bahkan gerabah dari situs ini banyak ditemukan bersama tulang-belulang manusia, Diperkirakan, mereka adalah manusia prasejarah sebagai penghuni pertama kota Jakarta.

Penggalian liar oleh masyarakat setempat terjadi antara tahun 1958-1960 saat media massa sedang gencar memberitakan situs Buni. Awalnya karena pada tahun 1958, ada seorang penduduk setempat yang secara tidak sengaja menemukan perhiasan-perhiasan emas dalam periuk-periuk kuno sewaktu mencangkul di sawah. Padahal sebenarnya, Buni sebagai ladang harta karun sudah diketahui sejak 1937. Ketika itu sejumlah pedagang barang antik sering menjual temuan-temuan prasejarah berupa gelang batu, manik-manik, dan gerabah kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Dan pada bulan Maret 2007, penduduk di sekitar Karawang menemukan berbagai perhiasan emas di lokasi garapan sawah. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa daerah Buni dan sekitarnya memang kaya akan benda kuno.

 

Selain Buni, situs-situs yang sudah dikenali antara lain Kampung Kramat, Pejaten, Condet-Balekambang, Kelapa Dua, Lenteng Agung, dan Ciganjur. Di wilayah Bogor, ada situs Bukit Sangkuriang dan Bukit Kucong. Menariknya, di situs Bukit Sangkuriang tim arkeologi pernah menemukan keramik China dalam jumlah cukup besar. Keramik tertua berasal dari zaman dinasti Sung (abad X-XIII) dan yang termuda berasal dari zaman dinasti Ching (abad XVII-XIX). Dengan demikian seharusnya kesinambungan budaya sejak zaman prasejarah hingga abad XIX, turut memperkaya khasanah sejarah Jakarta. Namun sayang, situsnya sudah tergerus erosi dan tanahnya dijadikan lahan pertanian oleh penduduk setempat.

Situs di Jakarta yang paling banyak mengungkapkan periode prasejarah adalah Pejaten, di daerah Pasar Minggu. Sepanjang penelitian pada 1970-an, di situs ini banyak ditemukan gerabah berhias, beliung persegi, kapak perunggu, batu asahan, cincin perunggu, fragmen tulang, dan arang.

Umumnya temuan-temuan tersebut diperoleh pada kedalaman 50-100 cm di bawah permukaan tanah. Dari sampel arang inilah (pertanggalan Radio Carbon atau C-14) kemudian diketahui bahwa situs Pejaten memiliki masa sekitar 1000 SM hingga 500 M. Tragisnya, kini situs Pejaten telah lenyap tertutup oleh sebuah komplek perumahan, sehingga penelitian lanjutan tidak mungkin terlaksana lagi di sana. Dan mungkin masa prasejarah Jakarta terkubur di sana.

Related posts