Perang Dingin dan Dampaknya bagi Indonesia

foto kapal induk

Perang Dingin dan Dampaknya bagi Indonesia – Ternyata Perang Dingin yang terjadi diluar Indonesia  dapat memberikan dampak yang signifikan,Alasan dikatakan perang dingin karena antara satu Negara dengan Negara lain tidak pernah bertemu dan tidak pernah berhadapan secara langsung namun saling memperebutkan pengaruh didunia,Negara tersebut yaitu Amerika Serikat dengan Uni Soviet (Rusia).

Perang ini, tidak seperti perang pada umumnya, lebih menekankan kepada rivalitas dalam menyebarkan pengaruh ideologis keduanya yang bertolak belakang.

Terjadinya PD II secara tidak langsung berpengaruh terhadap kehidupan politik dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1942 Jepang berhasil mengalahkan Belanda, dan mengambil alih kependudukan Belanda di Indonesia. Masa pendudukan Jepang berjalan sekitar 3,5 tahun. Berbagai kebijakan Jepang di Indonesia diarahkan untuk memperkuat kekuatan militer. Selain itu untuk ikut mendukung kemenangannya dalam menghadapi Sekutu. Perang Dunia II juga berpengaruh bagi Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Setelah Jepang kalah menyerah kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945, Indonesia dalam keadaan “vacuum of power” (kekosongan kekuasaan). Jepang sudah menyerah berarti tidak mempunyai hak memerintah Indonesia, sementara Sekutu, saat itu belum datang. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Setelah Perang Dunia II berakhir, muncul dua kekuatan besar di dunia yang saling bersaing dan bertentangan yaitu Amerika Serikat yang berpaham demokrasi-kapitalis dan Uni Soviet (Rusia) yang berpaham sosialis-komunis. Kedua negara tersebut berlomba-lomba menanamkan pengaruhnya di berbagai negara di dunia. Mereka membantu mulai dari bidang perekonomian hingga persenjataan dan  menjadi dalang dari negara yang bersengketa seperti dalam Perang Korea dan Perang Vietnam.

Vietnam adalah salah satu negara yang menjadi fokus dari Perang Dingin di Asia Tenggara (Weather, 2005).

Baca Juga :

Indochina (Vietnam, Laos, dan Kamboja) sejak tahun 1883 merupakan wilayah kolonial dari negara Perancis. Namun, pada tahun 1919, di Vietnam mulai muncul gerakan perjuangan kemerdekaan yang dipimpin oleh Ho Chi Minh dengan kecenderungan nasionalis dan komunisnya. Gerakan kemerdekaan yang dipimpin Ho Chi Minh belum menuai keberhasilannya hingga Vietnam diduduki Jepang pada masa PD II dan kembali diduduki Perancis setelah Jepang tumbang.

Keinginan Perancis untuk menguasai Vietnam pasca PD II ini menyulut terjadinya Perang Indochina. Pada perang Indochina ini Amerika Serikat kemudian merasa khawatir bahwa gerakan kemerdekaan pimpinan Ho Chi Minh di Vietnam akan memberikan efek domino terhadap negara-negara yang lain dalam penyebaran ideologi komunis (Mansbach, 2008).

Amerika Serikat menganggap bahwa perang yang terjadi di Indochina adalah lebih dari sekedar perang anti kolonialisme, tetapi juga merupakan sebuah bentuk dari ekspansionisme komunis. Sedangkan bagi Amerika Serikat, Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan dimana pengaruh komunisme seharusnya dapat ditekan (Weather, 2005).

Dari sini kemudian intervensi Amerika Serikat dimulai di Vietnam. Disisi lain, Uni Soviet yang melihat pergerakan intervensi dari Amerika Serikat di Vietnam juga tak mau kalah, dalam kasus ini, Uni Soviet memberikan dukungan penuh terhadap Ho Chi Minh. Keterlibatan dua negara besar ini menandakan bahwa perang dingin secara resmi digelar di Asia Tenggara (Mansbach, 2008).

Perang Indochina selesai dengan kekalahan Perancis pada 1954. Berakhirnya perang ini menghasilkan perjanjian tentang pembagian wilayah Vietnam menjadi dua bagian, yaitu: Vietnam Utara yang dipimpin Ho Chi Minh dengan Komunisme (didukung Soviet), dan Vietnam Selatan yang dimpimpin Ngo Dinh Diem dengan anti-komunisme (didukung Amerika). Dibaginya Vietnam menjadi dua kubu yang berseberangan ini kemudian menyulut meletusnya perang saudara. Berbeda dengan Soviet yang mulai menarik diri, intervensi Amerika Serikat yang justru semakin intens dan berlebihan justru memperbanyak jatuhnya korban termasuk warga sipil dan tentara Amerika itu sendiri. Namun pada akhirnya Vietnam kembali menjadi satu kesatuan dengan kemenangan rezim komunis pada 1976 (Mansbach, 2008).

Keterlibatan Amerika secara khusus dalam mencegah penyebaran komunisme di Vietnam, diwujudkan Amerika dengan membentuk SEATO (South East Asia Treaty Organization) pada tahun 1954 sebagai collective security organization sebagai pencegahan penyebaran komunisme dan pengaruh Soviet secara umum di Asia Tenggara. Namun sayang, SEATO dalam implementasinya hanya sedikit mengalami keberhasilan. Hal ini terbukti hanya dua negara Asia Tenggara yang menandatanginya, yaitu: Malaysia, dan Thailand (Weather, 2005).

Perang Dingin berdampak pada peta perpolitikan dunia pada saat itu. Negara-negara di dunia terbagi setidaknya menjadi tiga kelompok negara yaitu Blok Barat yang menganut paham demokrasi-kapitalis, Blok Timur yang berpaham sosialis-komunis, serta Non-Blok. Negara-negara yang biasanya menjadi incaran perebutan pengaruh kedua negara tersebut adalah negara-negara di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia.

Arah Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Masa Perang Dingin

Pada tahun 1960-an saat Indonesia menerapkan sistem demokrasi terpimpin, pemerintah mengarahkan pandangan politiknya ke negara-negara Blok Timur yang berhaluan komunis karena pada saat itu pengaruh PKI sangat besar di Indonesia. Alasan lain adalah karena Blok Barat terkesan enggan memberikan bantuan untuk perbaikan ekonomi dan persenjataan untuk membebaskan Irian Barat. Puncak kedekatan Indonesia dengan Blok Timur yang membuat Indonesia dicap sebagai negara komunis adalah pendirian Poros Jakarta-Hanoi-Pyong Yang-Phnom Penh. Kebijakan luar negeri pada waktu itu cenderung pada konfrontasi negara-negara Barat yang dianggap sebagai simbol kolonialisme dan imperialisme. Peristiwa pemberontakan G30S / PKI diduga didalangi PKI tahun 1965 menjadi titik balik perubahan arah politik Indonesia. Peristiwa G30S / PKI ini diikuti oleh pergeseran kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru, dari Soekarno ke Soeharto. Komunis dinyatakan sebagai ajaran terlarang di Indonesia dan pemutusan hubungan dengan negara-negara komunis pun diputuskan.

Dampak Perang Dingin Terhadap Indonesia 

  • Adanya perbedaan sistem politik-ekonomi pada masa orde lama dan orde baru, dari sistem komunisme-sosialis diubah menjadi sistem liberalisme-kapitalis
  • Indonesia mengalami keterpurukan ekonomi pada masa akhir kepemimpinan orde lama dan orde baru, dalam hal ini pemerintah melakukan beberapa cara seperti melakukan pertemuan di Tokyo, perundingan Indonesia dengan Paris Club, Indonesia bekerjasama dengan IGGI atau CGI, Indonesia bergabung dengan World bank, Indonesia keluar dari IMF.
  • Rakyat indonesia mengalami krisis ekonomi karena perang dingin
  • Banyak rakyat yang sengsara dan hidupnya tidak sejahtera
  • Berkembangnya paham-paham baru di Indonesia seperti Komunisme, Liberalisme dan sosialisme

Related posts