Sejarah Awal Kedatangan Tionghoa di Indonesia

Sejarah Awal Kedatangan Tionghoa di Indonesia

Sejarahindonesia.web.id – Dalam sejarah, seperti dikutip dari buku Tionghoa dalam Pusaran Politik, karya Benny G Setiono, keberadaan orang Tionghoa di Indonesia ternyata telah ada begitu lama. Pada awalnya, sebenarnya Indonesia bukanlah menjadi tujuan utama para pengelana Tionghoa.

Akan tetapi, letak geografis kepulauan Indonesia yang strategis dalam jalur perdagangan dunia, menyebabkan Indonesia memiliki posisi yang penting bagi para pedagang asal negeri tirai bambu tersebut. Dalam tulisan sederhana ini, akan coba dijelaskan fakta sejarah mengenai awal kedatangan orang-orang Tionghoa ke Indonesia. Akan juga coba dijelaskan mengapa pada saat ini mayoritas warga Tionghoa di Indonesia bermata pencaharian sebagai pedagang. Dibawah ini akan kami jelaskan mengenai sejarah awal kedatangan tionghoa di Indonesia :

1. Hubungan lalu lintas perdagangan antara Tiongkok dan Nusantara telah terjalin sangat lama
Nama nusantara ternyata telah tercatat dalam kronik Dinasti Han di masa pemerintahan Kaisar Wang Min yang memerintah pada periode 6-1 tahun sebelum masehi (SM). Masyarakat Tiongkok ketika itu menyebut wilayah nusantara dengan sebutan Huang-Tse.

Selain itu, menurut catatan dari Dinasti Han, hubungan resmi antara Tiongkok dan Jawadwipa (Jawa) bahkan telah terjalin sejak tahun 131 SM.

Lebih jauh lagi, bukti arkeologi seperti penemuan genderang perunggu asal kawasan Yunnan, bagian Tiongkok Barat Daya, yang ditemukan di Sumatera selatan, mengindikasikan kontak yang lebih lama telah terjadi antara Tiongkok da Nusantara.

2. Pengaruh angin musim membuat terjadinya interaksi antara kelana Tionghoa dan masyarakat pribumi
Moda trasporatasi jalur laut yang mengandalkan angin sangat bergantung pada arah mata angin. Dengan begitu, para perantau Tionghoa harus menetap selama 6 bulan sambil menunggu arah mata angin berbalik.

Ketika waktu menunggu ini kemudian terjadi interaksi antara orang Tionghoa dengan penduduk pribumi. Selain jatuh cinta terhadap negeri nusantara yang kaya dan dinilai lebih aman dari tanah mereka yang tandus, dan banyak terjadi peperangan serta bencana alam kala itu, para perantau Tionghoa juga tidak sedikit yang jatuh cinta terhadap wanita pribumi, memilih menikahinya dan akhinya menetap di nusantara.

3. Gelombang kedatangan orang Tionghoa pertama di Indonesia hanya terdiri dari kaum pria
Pada awal kedatangan orang Tionghoa di Indonesia hanya terdiri dari kaum pria. Alasannya sederhana. Karena dinilai terlalu berisiko bagi para pengelana Tionghoa, jika membawa anak-istri mereka ke negeri antah berantah yang belum mereka ketahui keadaannya dengan baik. Untuk itu hanya para prialah yang pergi merantau.

Selain sengaja merantau untuk berdagang, mereka juga mencoba untuk mencari pekerjaan. Mereka pada awalnya bekerja sebagai kuli kontrak, buruh, dan pekerja lepas di pertambangan. Karena tidak mengikutsertakan kaum perempuan, banyak kemudian terjadi perkawinan campuran antara pria Tionghoa dan wanita pribumi.

4. Mayoritas berprofesi sebagai pedagang, karena tidak diizinkan memliki tanah dan menjadi pegawai negeri
Citra etnis Tionghoa yang dikenal kuat dalam dunia usaha perdagangan dan ekonomi sudah ada sejak lama. Ketika masa penjajahan Belanda, urusan perdagangan 35,4 % dikuasai oleh etnis Tionghoa, melebihi yang dikuasai oleh kaum pribumi bahkan Eropa.

Hal ini sebenarnya disebabkan oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang tidak mengizinkan orang-oang Tionghoa untuk memiliki tanah, serta menjadi pegawai birokrasi pemerintah atau pegawai negeri.

Sehingga orang-orang Tionghoa memfokuskan diri mereka menjadi pedagang, bidang usaha yang memang mereka diizinkan untuk itu.

Mereka tidak bisa menjadi pemilik perkebunan atau pertanian karena tidak diizinkan memiliki tanah. Mereka juga tidak bisa menjadi pegawai negeri karena jabatan ini hanya diberikan kepada golongan Eropa dan bangsawan pribumi.

Baca Juga : Sejarah Dari Perjalanan Mata Uang Rupiah

5. Adanya perbedaan antara Tionghoa Totok dan Tionghoa Peranakan di Indonesia
Kamu mungkin pernah mendengar istilah Cina Totok dan Cina Peranakan. Istilah ini memang telah ada sejak zaman kolonialisme Belanda lho.

Penjelasannya sederhana, yang dimaksud dengan Cina Totok adalah kelompok orang-orang yang lahir di negeri Cina kemudian datang serta menetap di Indonesia.

Sementara itu, yang dimaksud dengan Cina peranakan adalah orang-orang keturunan Cina yang lahir di Indonesia. Beberapa dari Cina peranakan biasanya juga memiliki ibu yang merupakan warga pribumi.

6. Orang Tionghoa tidak hanya bermigrasi ke Indonesia, tapi ke berbagai penjuru dunia
Migrasi besar-besaran orang-orang Tionghoa ke berbagai penjuru dunia dimulai ketika abad ke-15. Ketika itu, kondisi daratan Tiongkok tidak henti-hentinya diisi dengan peperangan karena pasang-surut pergantian dinasti. Ditambah lagi, ketika itu daratan Tiongkok juga kerap kali dilanda bencana alam.

Hal ini menyebabkan warga warga Tionghoa memutuskan untuk nekat meninggalkan negara mereka meski hanya berbekal buntalan pakaian. Mereka bermigrasi ke berbagai benua mulai dari Asia, Afrika, Eropa, Amerika, hingga Australia.

Di Califonia, Amerika Serikat, warga Tionghoa keberadaannya dibutuhkan untuk mengerjakan proyek pembangunan jalan kereta serta proyek-proyek pertambangan. Mereka menjadi pekerja yang disukai. Karena selain bisa dibayar murah, mereka juga merupakan pekerja yang patuh, penurut, juga rajin.

Kamu tidak perlu merasa heran jika kini hampir di setiap negara dapat ditemukan kawasan pecinaan. Hal ini memang karena warga Tionghoa telah berdiaspora ke berbagai penjuru dunia. Di Indonesia sendiri, ada banyak lho kawasan pecinaan yang bisa kamu kunjungi sebagai objek wisata juga objek edukasi.

Related posts