Sejarah Perbudakan di Indonesia dan Dunia

Sejarah Perbudakan di Indonesia dan Dunia

Sejarahindonesia.web.id – Berbicara soal perbudakan masih menyisakan sejumlah kenangan buruk bagi sejarah manusia. Perbudakan terjadi di banyak budaya, negara dan melibatkan ras tertentu. Tak terhitung betapa banyaknya manusia yang disiksa dan dibunuh akibat perbudakan. Bahkan, meski kini perbudakan telah berakhir, topik ini tetap sensitif untuk dibicarakan. FYI, setiap tanggal 23 Agustus diperingati sebagai Hari Internasional untuk Menentang Perbudakan dan Penghapusannya. Simak fakta seputar sejarah perbudakan, baik di Indonesia maupun seluruh dunia, yuk!

1. Perbudakan pertama terjadi di Mesopotamia, 3.500 tahun sebelum masehi
Perbudakan telah dimulai sejak ribuan tahun ke belakang. Perbudakan pertama terjadi di Mesopotamia pada 3.500 tahun sebelum masehi. Ini terjadi ketika bangsa Mesopotamia mulai menguasai teknologi pertanian dan butuh tenaga manusia untuk mengurus lahan pertanian, ungkap laman Facts and Details.

Perbudakan di Mesopotamia dikisahkan dalam Code of Hammurabi, salah satu tulisan tertua di dunia. Tulisan ini ditulis di prasasti batu berukuran 2,25 meter. Budak ini dijual di pasar dan tenaganya digunakan untuk membangun irigasi, tempat pemujaan dan istana. Penetapan soal harga budak ini juga dituliskan dalam Code of Hammurabi.

2. Perbudakan berlanjut di Eropa pada abad kegelapan dan abad pertengahan
Perbudakan jadi sesuatu yang lumrah di Eropa pada abad kegelapan dan abad pertengahan. Pada awal abad pertengahan, perbudakan ditemukan di banyak tempat, seperti di masyarakat Cymry di Wales dan Anglo Saxon di Inggris. Mereka percaya bahwa membebaskan budak adalah wujud kesalahan yang besar, ungkap laman ThoughtCo.

Rentang waktu perbudakan ini diperkirakan terjadi pada tahun 300 hingga 1000 masehi. Perbudakan semakin meluas hingga ke Irlandia pada abad ke-11 dan Dublin menjadi pasar budak terbesar di Eropa Barat pada masa itu. Kegiatan perbudakan kian masif setelah wabah hitam melanda Eropa dan menurunkan populasi manusia secara drastis.

3. Ada larangan menjual budak dengan agama berbeda
Secara historis, ada larangan untuk menjual budak dengan agama yang berbeda. Berdasarkan persetujuan antara Venesia dan Kekaisaran Carolingian yang tertuang dalam Pactum Lotharii, Venesia berjanji untuk tidak membeli budak dengan agama kristen dan tidak menjual budak beragama kristen pada muslim. Ini disepakati pada 23 Februari 840.

Pihak gereja pun melarang untuk mengekspor budak beragama kristen pada daerah non-kristen, misalnya Konsili Koblenz pada tahun 922, Konsili London pada tahun 1102 dan Konsili Armagh pada tahun 1171, tulis Medieval Sourcebook pada laman Fordham University. Kompleks, ya?

4. Inilah hukum yang diterapkan dalam perbudakan
Meski perbudakan dianggap tidak manusiawi, nyatanya peraturan soal perbudakan diatur dengan baik oleh hukum Romawi. Peraturan ini diatur ulang oleh Justinian I dari Kekaisaran Bizantium menjadi Corpus Iuris Civilis. Hukum Romano-Bizantium mendefinisikan budak sebagai berikut:

  • Siapa pun yang ibunya adalah seorang budak
  • Siapa pun yang ditangkap dalam pertempuran
  • Siapa pun yang telah menjual dirinya sendiri untuk membayar utang

5. Lantas, bagaimana sejarah perbudakan di Amerika Serikat?
Amerika Serikat punya sejarah tersendiri soal perbudakan. Perbudakan ini terjadi pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Orang-orang yang menjadi budak berasal dari kalangan Afrika-Amerika. Perbudakan ini bertahan hingga tahun 1865 dan dilarang oleh Amandemen Ketigabelas.

Perbudakan di AS menyisakan catatan kelam. Budak yang tidak melakukan hal sesuai keinginan pemiliknya akan mendapatkan hukuman fisik yang kejam. Hukumannya bervariasi, mulai dari hukum cambuk, pukulan, penjara, hukum gantung, sampai dibakar dan dipotong-potong. Tidak sedikit budak yang kabur akibat kekejaman pemiliknya.

Baca Juga : Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia

6. Bagaimana dengan perbudakan di Indonesia?
Siapa bilang di Indonesia tidak ada perbudakan? Pada masa kolonial Belanda, perbudakan dan penjualan manusia umum ditemukan. Oleh Belanda, budak dipekerjakan di ladang, kebun hingga rumah. Di sisi lain, budak asal Indonesia dijual ke keluarga Belanda yang kaya dengan harga setara dengan 45 barel beras, ungkap laman Facts of Indonesia.

Keluarga yang memiliki budak dianggap memiliki derajat sosial yang lebih tinggi dibanding dengan mereka yang tidak mempunyai budak. Semakin banyak budak, semakin dihargai keluarga Belanda tersebut. Budak juga dianggap sebagai hadiah. Keluarga Belanda sering mengirim budak sebagai bentuk persahabatan.

7. Kapan perbudakan di seluruh dunia diakhiri?
Menyadari bahwa perbudakan itu buruk, satu per satu negara pun mulai menghapuskan perbudakan. Di tahun 1831, perbudakan dihapuskan dari Bolivia dan Brazil, lalu disusul dengan Yunani yang menghapus perbudakan di tahun 1832. Tak mau ketinggalan, Prancis pun menghapus perbudakan di tahun 1834.

Di tahun 1840, agenda pertama World Anti Slavery Convention bertemu di London, Inggris. Negara lain mulai menyusul, seperti Ekuador yang menghapus perbudakan pada tahun 1851 dan Argentina yang menghapus perbudakan pada tahun 1853. Masih banyak lagi negara yang tidak setuju dan akhirnya mulai menghapus perbudakan di negara mereka.

Nah, itulah fakta sejarah seputar perbudakan yang terjadi di Indonesia dan seluruh dunia. Semoga informasi ini bisa menambah wawasanmu, ya!

Related posts