Sihir Surat Cinta Bung Karno

Sihir Surat Cinta Bung Karno

sejarahindonesia.web.id – Sihir Surat Cinta Bung Karno, Ada sisi romantis yang melekat dalam diri Sukarno yang membuat wanita mengagumi figurnya. Kekaguman para istri Sukarno sama sekali bukan semata karena ia seorang presiden, melainkan, mereka benar-benar terkesan akan sosoknya.

Sisi romantis Sukarno adalah kepiawaiannya merangkai kata dalam surat cinta. Tidak hanya pandai berorasi, tetapi juga bernarasi lewat secarik surat.

Seperti sepucuk surat untuk Hariyatie, penari yang dinikahi Bung Karno 21 Mei 1963. Surat tersebut ditulis 31 Agustus 1963, tiga bulan setelah mereka menikah.

Baca juga : Tan Malaka dan Surat Wasiat Politik Bung Karno

Sesuai dengan firasat Bung Karno di bagian akhir surat ini, ia lebih dulu berpulang dari Harieyati. Namun sosok Sukarno melekat dalam memorinya.

  • De Bloem van Mangkunegaran, Wanita Penolak Cinta Sukarno

Di balik kuatnya pesona Bung Karno, pernah ada perempuan yang menolak cintanya. Bahkan ia mengejar-ngejar cinta wanita itu. Perempuan tersebut adalah Gusti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani.

Gusti Nurul adalah putri cantik dari Mangkunegara, anak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro VII.

De Bloem van Mangkunegaran atau yang berarti Kembang dari Mangkunegara adalah gelar yang diberikan oleh Ratu Wilhemina kepada Gusti Nurul. Ratu Belanda tersebut terpukau oleh penampilan Gusti Nurul menari di Istana Noordeinde, Belanda.

Bung Karno pernah melamarnya, tapi Gusti Nurul menolak. Bahkan, Sukarno bukan satu-satunya, ada nama Sutan Sjahrir, Sultan Hamengkubuwono IX, dan Kolonel G.P.H., dalam daftar lelaki yang pernah dipatahkan hatinya oleh Gusti Nurul.

Konon, penolakan itu karena Gusti Nurul menolak tradisi poligami.

Kisah Cinta dengan Hartini menjadi asmara terunik dalam hidup Sukarno. Putra Sang Fajar jatuh cinta terhadap Hartini lantaran sayur lodeh.

Kisah tersebut terjadi saat presiden melakukan kunjungan ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ia singgah ke Salatiga dan dijamu makan siang di rumah Wali Kota.

Nama lengkap perempuan itu Siti Suhartini. Ia ikut membantu di dapur, menyambut kedatangan Sukarno. Hartini memasak sayur lodeh. Bung Karno makan sayur tersebut di depan Hartini.

“Siapa yang masak sayur lodeh yang enak ini? Saya ingin mengucapkan terima kasih kepadanya,” tanya Bung Karno usai jamuan. Hartini mengulurkan tangan. Bung Karno terkesiap kecantikannya.

Setibanya di Jakarta, Bung Karno menulis sepucuk surat untuk Hartini.

Tuhan telah mempertemukan kita, Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir

– Bung Karno

Surat menyurat ini berlanjut dengan menggunakan nama Srihana dan Srihani.

Hidup Bersama Naoko Nemoto

Namanya Naoko Nemoto, perempuan Jepang kelahiran 1940. Pertemuan mereka terjadi tahun 1959 di Negeri Sakura. Dia perempuan yang dicintai Bung Karno sejak pandangan pertama.

Pernikahan mereka dikaruniai putri bernama Kartika Sari Dewi Sukarno. Putri kecil Sukarno ini hanya dua kali berjumpa sang ayahanda. Kendati begitu, ia sangat mengagumi sosok Bung Karno. Kartika Sukarno meninggalkan sepucuk surat di makam sang ayah, surat yang tidak pernah dibuka orang lain.

Pernikahan mereka dikaruniai putri bernama Kartika Sari Dewi Soekarno. Putri kecil Soekarno ini hanya dua kali berjumpa sang ayahanda. Kendati begitu, ia sangat mengagumi sosok Bung Karno. Kartika Soekarno meninggalkan sepucuk surat di makam sang ayah, surat yang tidak pernah dibuka orang lain.

Related posts