Tan Malaka dan Surat Wasiat Politik Bung Karno

Tan Malaka dan Surat Wasiat Politik Bung Karno

sejarahindonesia.web.id – Tan Malaka dan Surat Wasiat Politik Bung Karno, Hubungan antara Sukarno dengan Tan Malaka menjadi salah satu yang mencuri perhatian saya di sini. Keduanya sama-sama revolusioner, bahkan Bung Karno telah lebih dulu mengenal dan mengagumi pemikiran Tan Malaka, tanpa pernah bertemu langsung.

Pertemuan pertama mereka pun cukup unik, sebab Sukarno didebat oleh Tan yang waktu itu hanya buruh dengan nama samaran Ilyas Hussein. Peristiwa tersebut terjadi saat ia bersama Bung Hatta berkunjung ke Bayah, Banten. Sang orator ulung ini didebat ketika menyampaikan pidatonya yang kurang lebih soal memperoleh kemerdekaan dari Jepang.

Baca juga : Kisah Unik dan Lucu Bung Karno

Kalau tiada salah bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan Indonesia. Artinya, kemenangan terakhir dahulu dan di belakangnya baru kemerdekaan Indonesia? Apakah tiada lebih cepat bahwa kemerdekaan Indonesialah kelak yang lebih menjamin kemenangan terakhir?

– Tan bertanya pada Soekarno

Tan berseberangan dengan Bung Karno soal kemerdekaan diperoleh atas pemberian. Baginya, kemerdekaan itu diperjuangkan dan direbut. Perdebatan ini menjadi awal mula perbedaan pandangan keduanya, bahkan setelah Tan menggunakan identitas aslinya.

Pertemuan langsung keduanya tanpa samaran terjadi 9 September 1948 secara rahasia.

Alhasil dari diskusi mereka, Bung Karno semakin mengagumi sosok Tan. Hingga ia membuat surat wasiat tentang Tan yang akan jadi penggantinya.

“Kalau saya tiada berdaya lagi, kelak pimpinan revolusi akan saya serahkan kepada saudara”

– Wasiat Soekarno untuk Tan

30 September 1945, Sukarno membuat testatemen politik mengenai keinginan tersebut. Namun Bung Hatta menolak kalau hanya Tan seorang yang jadi pengganti. Berbagai polemik yang muncul akibat testatemen politik tersebut, membuat Bung Karno akhirnya membakar surat itu tahun 1964.

Begitulah hubungan kedua tokoh revolusioner ini, mengagumi pemikiran di satu sisi dan juga sering berseberangan di sisi lainnya. Keduanya sama-sama tonggak pemikiran kemerdekaan Indonesia.

Related posts