Terjadinya Perang Saudara di Nusantara

foto perang saudara

Perang Saudara di Bumi Nusantara – Perang tidak selalu terjadi terhadap Negara lain namun kadang terjadi juga didalam Negara Sendiri,perselisihan pendapat ataupun perebutan kekuasaan sering kali menjadi penyebabnya, hal ini sudah terjadi sejak jaman masa islam awal hingga jaman Kerajaan Nusantara,kejadian ini seharusnya menjadi pengingat akan bahaya perang saudara,karena bisa menyebabkan runtuhnya suatu Negara danĀ  hal tersebut tidak dapat disepelekan mengingat dampak yang dihasilkan kedepannya.tidak ada penangkal yang dapat menjaga kejayaan negara ketika konflik timbul dari dalam tubuh negara itu sendiri.kondisi ini bagaikan tubuh manusia yang digerogoti oleh penyakit kanker kronis yang perlahan-lahan tumbuh dan dapat menyebabkan kematian kapan saja.

Sadar atau tidak perang saudara seperti penyakit kronis yang menular, sehingga sekebal apapun negara, lambat laun akan rapuh.Kita bisa berkaca dari peristiwa berakhirnya Khalafa’u ar-Rosyidin pada masa Ali bin Abi Thalib yang terlibat konflik dengan Mu’awiyah yang dikenal dengan Perang Siffin (“Al Aqdu Al Farid” (4/3140)), runtuhnya Dinasti Umayyah karena berseteru dengan Dinasti Abbasiyah. Begitu juga kewibawaan Turki Utsmani runtuh karena perang saudara walau sebagian besar karena serangan barat (Syafik A. Mughani:1997).

Hampir dapat dipastikan baik di Kerajaan Dunia ataupun di Nusantara juga terlibat perang saudara dan telah meninggalkan duka yang sangat dalam,Kejayaan negara-negara besar yang kita kagumi semua musnah karena perang saudara, kita pasti mengenal sejarah perang Paregreg di zaman Majapahit dan runtuhnya Demak Bintoro yang diserang pasukan Pajang yang menantu mau menuntut hak,Begitu juga Pajang luluh lantah karena Kesatria Mataram (dengan tanah pertikannya) merasa paling berhak atas takhta,semua itu terjadi akibat perebutan Kekuasaan.

Berlarut-larut perang saudara terjadi, para penguasa dan koleganya tidak lagi peduli pada nasib negara dan rakyat, sehingga memudahkan asing menginjakkan kaki di bumi Nusantara. Ketidak pedulian ini, penyebab terjadinya penjajahan sekian abad dan berakhirnya era kerajaan di Nusantara.

Karena perang saudara pula, rakyat menderita, harta dirampas dan kehidupan yang terbatas, sedangkan para penguasa waktu itu, sibuk mencari koalisi guna melanggengkan kekuasaannya. Namun, Merasa terjajah dan hak hidup yang dirampas, akhirnya dirasakan oleh semua pihak, rakyat dan para tokoh Nusantara bangkit dan bersatu memerdekan dan memproklamirkan Indonesia.

Indonesia hampir hancur karena terlibat perang saudara di mana negara berperang malawan PKI, GAM, RMS, OPM dan perang saudara lain yang terjadi di berbagai daerah.

Faktornya sama, merasa lebih berhak atau dihasut oleh asing, namun beruntung kejadian itu dapat dipadamkan dan Indonesia tetap berdiri kokoh sampai saat ini.

Sejarah juga mencatat, terlepas ada sikap iri atau faktor adu domba, perang saudara harus ditinggalkan. Terjadinya perang saudara, sepintas karena pengaruh internal, namun tidak berlebihan, jika perang saudara disebabkan ada asing yang berkepentingan. Dengan demikian, sejarah kelam itu harus jadi bahan muhasabah untuk Indonesia yang lebih baik.

Indonesia hari ini, sepertinya ingin mengulang tragedi berdarah. Saling menyalahkan antara penguasa dan pejabat negara, saling mengkafirkan antara organisasi dengan organisasi lain dan saling menganggap paling berjasa untuk Indonesia. Fenomena ini sebuah tanda munculnya perang saudara. Ketika hal itu benar-benar terjadi, mustahil Indonesia akan kuat menahan gempuran penjajah yang mulai masuk di negeri ini.Tidak peduli siapa yang benar dan siapa yang lebih berhak, rakyat Indonesia harus bersatu demi menjaga keutuhan Indonesia.

Semangat bersatu padu menjadi benteng pencegah masuknya pengaruh asing.Sibuk mengurusi dapur orang dan pusing cacian, tanpa disadari, bahwa asing sudah mulai menjajah Indonesia dan kita dapat menyaksikan bagaimana sebagian kebijakan negara menjadi dibuat untuk memudahkan jalan masuk bagi asing untuk leluasa menguasai negeri ini.Sewajarnya kita menahan emosi dan tidak terlarut dengan konflik yang semestinya dapat diselesaikan oleh kata maaf,karena bagaimanapun kita tetap bersaudara,Sadar akan aktor penyebab gaduh menjadi wajib agar tidak mengulang tragedi berdarah yang selalu menjadi penyebab mudahnya asing menguasai negara dan meruntuhkannya.

Beberapa kejadian yang telah terekspos bukan alat menciptakan kubu dan mengumandangkan perang dengan kubu lain, melainkan sebagai introfeksi diri untuk saling menasehati, mengkritisi dan memberi solusi.

Memang sangat tidak patut jika kejadian-kejadian tersebut dianggap sebagai perang saudara, tetapi, sikap curiga yang membabi buta pada saudara sendiri, inilah hakikat perang saudara dan sulit untuk diredam, karena seperti kata pepatah, “Lebih baik menghadapi musuh dari luar dari pada dari dalam.” Itu bukti bahwa perang saudara sulit diungkap maskipun sangat berbahaya.

Sangat wajar kalau kita harus mawas diri dan meneladani peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Kita harus berpikir untuk keutuhun negara, bukan saling menjatuhkan dan menimbulkan perpecahan. Sebab, gerombolan perampok pun akan abadi ketika bersatu, apa lagi Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika,walaupun berbeda tetap bersatu jua.

Menyiasati kemelut akhir-akhir ini, sepantasnya membuang sikap iri, dengki dan sifat sok benar sendiri, karena negara Indonesia bukan negara pendendam dan karena Indonesia negara kesatuan, maka bersatu kita teguh bercerai kita runtuh,pepatah ini pun benar adanya.salam damai untuk saudara-saudara kita semua diseluruh pelosok Nusantara.

Related posts