ZAMAN PRASEJARAH INDONESIA

Prasejarah

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

 ZAMAN PRASEJARAH INDONESIAManusia yang hidup pada zaman prasejarah disebut manusia purba.  Tanah air kita sudah dihuni manusia sejak jutaan tahun yang lalu. Fosil-fosil manusia purba banyak ditemukan di Indonesia yaitu sejak jutaan tahun yang lalu terutama di Pulau Jawa.Manusia purba adalah manusia penghuni bumi pada zaman prasejarah yaitu zaman ketika manusia belum mengenal tulisan. Ditemukannya manusia purba karena adanya fosil dan artefak. Fosil adalah sisa-sisa organisme (manusia, hewan, dan tumbuhan) yang telah membatu yang tertimbun di dalam tanah dalam waktu yang sangat lama.  Sedangkan artefak adalah peninggalan masa lampau berupa alat kehidupan/hasil budaya yang terbuat dari batu, tulang, kayu dan logam. Cara hidup mereka masih sangat sederhana dan masih sangat bergantung pada alam.

 BRumusan Masalah

  1. Bagaimana kehidupan manusia pada zaman prasejarah ?
  2. Bagaimana perkembangan kehidupan manusia zaman prasejarah ?

 C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui kehidupan manusia pada zaman prasejarah
  2. Unuk mengetahui perkembangan kehidupan manusia zaman prasejarah

BAB II

ISI

A. Kajian

ZAMAN PRASEJARAH INDONESIA

Berdasarkan hasil-hasil kebudayaan yang ditinggalkan di kepulauan Nusantara sebelum mengenal tulisan, maka kehidupan masyarakat paling awal di Indonesia oleh para ahli dibagi atas 2 (dua) zaman yaitu, Zaman Batu dan zaman Logam.

Zaman Batu terdiri atas Zaman Batu Tua (Paleolitikum), Zaman Batu Madya (Mesolitikum), Zaman Batu Muda (Neolithikum), dan Zaman Batu Besar (Megalithikum). Sedangankan zaman logam terdiri dari Zaman Tembaga, Zaman Perunggu, dan Zaman Besi. Dari zaman-zaman tersebut hanya zaman tembaga yang tidak pernah berkembang di Indonesia.

  1. Zaman Batu

Zaman batu dibedakan menjadi 4 sebagai berikut.

A. Zaman Batu Tua (Paleolithikum)

Zaman batu tua ini berlangsung selama Kala Pleistosen. Zaman ini berlangsung kurang lebih 600.000 tahun. Perkembangan kebudayaan pada zaman Glasial dan Interglasial dating silih berganti.

a. Peninggalan Budaya

  1. Kebudayaan Pacitan

Alat-alat batu ditemukan oleh Van Koenigswald, pada tahun 1935 di kali Baksoko, Jawa Timur. Alat ini berupa kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, flake. Alat-alat dari batu tersebut berasal dari lapisan Pleistosen Tengah.

  1. Kebudayaan Ngandong

Alat-alat zaman ini ditemukan di Ngandong dekat Ngawi Jawa Timur. Alat ini berupa kapak genggam dan flake. Disamping itu pada kebudayaan Ngandong ditemukan alat-alat dari tanduk. Alat dari tulang tersebut berupa alat penusuk (belati), ujung tombak dengan gergaji pada kedua sisinya dan alat pengorek ubi dan keladi.

b. Manusia Pendukung

Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis, Homo Wajakensis, karena ditemukan di Pleistosen Tengah.

c. Kehidupan Sosial

Berdasarkan temuan mereka hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan.

Hewan bururan mereka antara lain : kerbau, banteng, kuda nil, badak, rusa, monyet, dll.

Mereka hidup dengan cara berpindah-pindah.

d. Kepercayaan

Mulai percaya dengan kekuatan alam.

B. Zaman Batu Madya (Mesolithikum)

Zaman ini berlangsung Kala Holosen. Perkembangan budaya pada zaman ini lebih cepat karena mereka berasal dalam ktegori manusia cerdas.

a. Peninggalan Budaya

  1. Kebudayaan Tulang Sampung
  2. Kebudayaan Toala
  3. Kebudayaaan kapak genggam Sumatra

 b. Manusia Pendukung

Pendukung kebudayaan Mesolithikum adalah manusia dari ras papua melanosoid.

c. Kehidupan Sosial

Sebagian masih berburu dan mengumpulkan makanan, tetapi sebagian lagi dari mereka sudah bertempat tinggal secara menetap di gua-gua dan bercocok tanam sederhana.

d. Kepercayaan

Mereka sudah mengenal kepercayaan dan penguburan mayat.

A. Zaman Batu Muda (Neolithikum)

Perkembangan zaman ini sudah sangat maju apabila dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya migrasi secara bergelombang penduduk proto-melayu dari Yunan, Cina Selatan ke Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia.

a. Peninggalan Budaya

  1. Kapak Persegi
  2. Kapak Lonjong
  3. Gerabah

Manusia pendukung pada zaman ini memegang peranan penting sebagai wadah atau tempat. Gerabah ada yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dalam rumah tangga, untuk keperluan acara, da nada juga yang digunakan untuk wadah tulang tulang manusia.

b. Manusia Pendukung

Manusia pendukung pada masa ini bertempat tinggal di Indonesia bagian Timur. Mereka berasal dari ras Proto-Melayu, termasuk dari mereka suku Sasak, Batak, Dayak dan Toraja.

c. Kehidupan Sosial Budaya

Perubahan besar terjadi dalam bidang social budaya, perubahan tersebut dikenal dengan nama Revolusi Neolithik yaitu perubahan dari mengumpulkan makanan menjadi menghasilkan makanan dan dari kehidupan berpindah-pindah menjadi menetap.

d. Kepercayaan

Mereka mengenal kepercayaan animism, yaitu kepercayaan tentang adanya roh-roh yang memiliki kekuatan gaib, sedangkan kepercayaan dinamisme yaitu kepercayaan terhadap benda yang dianggap krena memiliki kekuatan karena ditempati atau merupakan perwujudan dari roh.

A. Zaman Batu Besar (Megalithikum)

Kebudayaan Megalithikum adalah kebudayaan yang utamanya menghasilkan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu-batu besar masif. Bangunan megalithic ini digunakan untuk sarana penghormatan dan pemujaan terhadap arwah nenek moyang.

Adapun hasil-hasil dari kebudayaan Megalithikum sebagai berikut:

a. Menhir

Menhir yaitu tiang atau tugu batu yang terbuat dari batu tunggal dan ditempatkan pada suatu tempat.

Fungsi Menhir sebagai berikut:

  1. Sebagai sarana pemujaan terhadap arwah nenek moyang
  2. Sebagai tempat memperingati seseorang (kepala suku)  yang telah meninggal
  3. Sebagai tempat menampung kedatangan roh.

b. Punden Berundak

Punden berundak adalah bangunan pemujaan yang bertingkat-tingkat (berundak-undak). Tempat ini banyak ditemukan di Ciloso,  Sukabumi.

c. Dolmen

Dolmen adalah meja batu sebagai tempat sesaji. Ada dolmen yang berkakikan menhir seperti ditemukan di Pasemah, Sumatra Selatan. Ada pula dolmen yang juga digunakan untuk kubur batu seperti yang ditemukan di Bondowoso dan di Merawan, Jember, Jawa Timur.

d. Kubur Peti Batu

Kubur Peti Batu adalah peti jenazah yang terpendam di dalam tanah berbentuk persegi panjang dan sisi-sisinya terbuat dari lempengan-lempengan batu. Kubur peti batu banyak ditemukan di Kuningan, Jawa Barat.

e. Sarkofagus

Sarkofagus atau keranda adalah peti jenazah yang terbentuk seperti tulang atau lesung, tetapi mempunyai tutup. Sarkofagus banyak ditemukan di Bali dan Sumatra Barat.

f. Waruga

Waruga adalah peti jenazah kecil yang berbentuk kubus dan ditutup dengan batu lain yang selalu berbentuk atap rumah. Waruga banyak ditemukan di Minahasa.

g. Arca Batu

Arca-arca tersebut banyak ditemukan di Sumatra Selatan diteliti oleh Van Heine Geldern. Arca-arca tersebut menggambarkan manusia dan binatang, seperti gajah, harimau, babi, rusa dan kera.

  1.  Zaman Logam

Pada zaman logam penduduk Nusantara telah mampu mengolah dan melebur logam, kepandaian ini diperoleh setelah mereka menerima pengaruh dari kebudayaan Dongson. Disebut zaman logam krena sebagian besar alat terbuat dari logam. Zaman logam dibedakan menjadi 3 (tiga) zaman sebagai berikut.

A. Zaman Perunggu

Disebut dengan zaman perunggu krena pada zaman inidihasilkan peralatan kehidupan yang dari perunggu, yaitu campuran antara timah dan tembaga.

1. Teknologi

Peralatan zaman perunggu dibuat dengan 2 (dua) macam teknik:

a. Teknik Bivalve (setangkap)

Teknik ini menggunakan dua cetakan yang dapat ditangkapkan. Cetakan ini diberi lubang pada bagian atasnya. Cetakan ini dapat digunakan berkali-kali.

b. Teknik A Cire Perdue (cetakan lilin)

Teknik ini diawali dengan membentuk benda logam dari lilin yang berisi tanah liat sebagai intinya. Cetakan ini hanya dapat digunakan sekali saja.

2. Hasil-hasil Kebudayaan

a. Kapak Corong atau Kapak Sepatu

Kapak corong banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Pulau Selayar dan didaerah Papua dekat Danau Sentani.

b. Nekara

Nekara banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Sumbawa, Leti, Rote, Selayar dan kepulauan Kei.

c. Bejana Perunggu

d. Arca-arca Perunggu

f. Benda-benda Perunggu

3. Manusia Pendukung

Pendukung utama kebudayaan perunggu di Indonesia adalah pendatang baru dari Asia Daratan. Mereka adalah penduduk Deutro Melayu dengan membawa kebudayaan Dongson yaitu kebudayaan perunggu Asia Tenggara.

4. Kehidupan Sosial Budaya

Pada masa ini penduduk Indonesia sudah hidup di desa-desa di daerah pegunungan, daratan rendah dan tepi pantai. Mereka hidup dalam perkampungan-perkampungan yang makin teratur dan terpimpin. Mata pencehariaan zaman ini adalah dari pertanian.

5. Pelayaran

Pengetahuan manusia pada zaman logam meningkat pesat. Ilmu tentang perbintangan dan iklim telah dikuasai untuk mengatur kegiatan pertanian dan pelayaran. Aornel menyimpulkan bahwa perahu bercadik adalah perahu khusus dari Indonesia. Perahu tersebut dari batang pohon yang dalamnya dikeruk, sehingga berbentuk lesung.

B. Zaman Tembaga

Indonesia tidak mengalami zaman tembaga. Hal ini dibuktikan dengan tidak ditemukanya peninggalan-peninggalan benda tembaga purba di Indonesia. Setelah zaman perunggu Indonesia langsung memasuki zaman besi.

C. Zaman Besi

Pada zaman ini manusia telah dapat mengolah bijih-bijih besi untuk membuat peralatan-peralatan yang dibutuhkan oleh manusia itu sendiri. Tingkat kehidupan pada zaman ini sudah jauh lebih baik dari tingkat kehidupan zaman sebelumnya.

Teknik pembuatannya menggunakan teknik a cire perdue, namun berdasarkan penelitian Van der Hoop, teknik pembuatanna menggunakan bivall (tangan) dan bivalve (tangan pada luar dan lilin pada dalamnya).

B. Implikasi

Di Indonesia sangatlah banyak terdapat fosil-fosil manusia purba yang ditemukan beserta dengan aneka ragam kebudayaannya. Sebagai orang asli Indonesia kita ini patut untuk bangga dengan semua itu, namun janganlah sampai kita membiarkan pengetahuan itu hilang begitu saja. Sebagai sejarawan kita harus mengetahui jejak-jejak perkembangan kehidupan mereka agar kita dapat menghargai leluhur kita, baik dari segi social budaya, dari segi kepercayaan dan lain sebagainya.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Manusia pada masa prasejarah mengalami kehidupan yang sangatlah keras, mereka dituntut untuk bisa hidup di alam bebas seperti apapun kondisinya. Manusia zaman itu hidup dengan cara yang beragam. Di awal masa praaksara mereka hidup dengan cara berburu dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana yang terbuat dari batu yang masih sangat kasar, sampai kemudian dihaluskan. Mereka hidup dengan berpindah-pindah tergantung dari kondisi hewan buruan dan makanan lain yang ada. Kemudian mereka mulai mengenal bercocok tanam sehingga mereka tidak lagi hidup dengan berpndah-pindah walau kadang-kadang mereka masih berburu. Sampai akhirnya mereka mengenal ilmu perbintangan yang sangat menunjang kehidupan harian mereka terutama dalam berlayar dan bertani. Kemajuan lebih jauh lagi adalah ketika manusi pada masa pra aksara telah mampu membuat peralatan-peralatan yang terbuat dari besi yang dibutuhkan oleh manusia itu sendiri

Related posts