KERAJAAN SALAKANAGARA

Kerajaan salakanagara

KERAJAAN SALAKANAGARA

Salah satu kerajaan di pulau Jawa adalah Salakanagara yang berarti negara perak. Kerajaan Salakanagara bercorak Hindu-Budha Salakanagara berdiri pada tahun 52 Saka (130/131 Masehi). Lokasi kerajaan berada di Teluk Lada, kota Pandeglang. Pandeglang dalam bahasa Sunda berarti pembuat gelang di mana Pandeglang terkenal dengan hasil logamnya.

Diperkirakan letak ibukota kerajaan adalah kota Merak sekarang yang merupakan singkatan dari Membuat Perak. Sebagian memperkirakan kerajaan terletak di sekitar Gunung Salak, berdasarkan kata “Salaka” dan kata “Salak“. Kerajaan Salakanagara kemudian digantikan oleh kerajaan Tarumanagara.

Pendiri Salakanagara, Dewawarman, merupakan seorang duta keliling, pedagang sekaligus perantau dari Pallawa, Bharata (India) yang menetap karena menikah dengan puteri penghulu setempat, sedangkan pendiri Tarumanagara adalah Maharesi Jayasingawarman, pengungsi dari wilayah Salankayana, Bharata karena daerahnya dikuasai oleh kerajaan Magada. Sementara Kutai didirikan oleh pengungsi dari Magada, Bharata setelah daerahnya juga dikuasai oleh kerajaan lain.

Tokoh awal yang berkuasa adalah Aki Tirem. Kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus, terletak di Teluk Lada Pandeglang. Aki Tirem merupakan penghulu atau penguasa kampung setempat yang menjadi mertua Dewawarman. Hal ini membuat semua pengikut dan pasukan Dewawarman menikah dengan wanita setempat dan tak kembali ke kampung halamannya.

Ketika Aki Tirem meninggal, Dewawarman menerima kekuasaan dan mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Salakanagara (Negeri Perak) yang beribukotakan Rajatapura. Ia menjadi raja pertama bergelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara. Kerajaan kecil di sekitar menjadi daerah kekuasaannya, antara lain Kerajaan Agnynusa (Negeri Api) yang berada di Pulau Krakatau.

Salakanagara berdiri hanya selama 232 tahun, dari tahun 130 Masehi hingga tahun 362 Masehi. Raja Dewawarman I sendiri hanya berkuasa selama 38 tahun dan digantikan oleh anaknya yang menjadi Raja Dewawarman II bergelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. Prabu Dharmawirya tercatat sebagai Raja Dewawarman VIII atau raja Salakanagara terakhir hingga tahun 363 karena sejak itu Salakanagara telah menjadi kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Tarumanagara yang didirikan tahun 358 Masehi oleh Maharesi yang berasal dari Calankayana, India bernama Jayasinghawarman. Pada masa kekuasaan Dewawarman VIII, keadaan ekonomi penduduknya sangat baik, makmur dan sentosa, sedangkan kehidupan beragama sangat harmonis.

Sementara Jayasinghawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Calankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya. Di kemudian hari setelah Jayasinghawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumanagara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah.

Bukti-bukti Sejarah Peninggalan Salakanagara:

  • Menhir Cihunjuran berupa Menhir sebanyak tiga buah terletak di sebuah mata air, yang pertama terletak di wilayah Desa Cikoneng. Menhir kedua terletak di Kecamatan Mandalawangi lereng utara Gunung Pulosari dan Menhir ketiga terletak di Kecamatan Saketi lereng Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang. Batu menyerupai batu prasasti Kawali II di Ciamis dan Batu Tulis di Bogor.
  • Dolmen terletak di kampung Batu Ranjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang sehingga disebut Batu Ranjang. Sebuah batu datar  dengan panjang 250 cm, dan lebar 110 cm. Terbuat dari batu andesit yang dikerjakan sangat halus, permukaan yang rata, pahatan pelipit melingkar yang ditopang oleh empat buah penyangga dengan tinggi masing-masing 35 cm. Di tanah sekitarnya dan di bagian bawah batu ada ruang kosong. Di bawahnya terdapat fondasi dan batu kali yang menjaga agar tiang penyangga tidak terbenam ke dalam tanah. Dolmen ditemukan tanpa unsur megalitik lain, kecuali dua buah batu berlubang yang terletak di sebelah timurnya.
  • Batu Magnit terletak di puncak Gunung Pulosari, pada lokasi puncak Rincik Manik, Desa Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. Merupakan sebuah batu yang unik, karena ketika dilakukan pengukuran arah dengan kompas, meskipun ditempatkan di sekeliling batu dari berbagai arah mata angin, jarum kompas selalu menunjuk pada batu tersebut.
  • Batu Dakon terletak di Kecamatan Mandalawangi, di situs Cihunjuran. Batu ini memiliki beberapa lubang di tengahnya yang berfungsi sebagai tempat meramu obat-obatan.
  • Air Terjun Curug Putri terletak di lereng Gunung Pulosari Kabupaten Pandeglang yang merupakan tempat pemandian Nyai Putri Rincik Manik dan Ki Roncang Omas. Terdapat berbagai macam batuan dalam bentuk persegi, yang berserak di bawah cucuran air terjun.
  • Pemandian Prabu Angling Dharma terletak di situs Cihunjuran Kabupaten Pandeglang yang dulunya digunakan oleh Prabu Angling Dharma atau Aki Tirem atau Wali Jangkung.

Wilayah daratan yang menjadi kekuasaan Salakanagara, meliputi Jawa bagian barat dan semua pulau di sebelah barat Jawa. Sedangkan kekuasaan lautnya meliputi laut di antara pulau Jawa dan Sumatera. Setiap pesisir pantai yang menjadi kekuasaan Salakanagara dijaga oleh pasukan, sehingga perahu-perahu yang datang dari timur maupun barat harus berhenti dan membayar upeti kepada Salakanagara. Meskipun tercatat sebagai negara maritim, tapi Salakanagara juga memiliki sistem pertanian yang menggunakan cara berladang. Pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki Salakanagara adalah Nusa Mandala (Pulau Sangiang), Nusa Api (Krakatau), dan pesisir Sumatera bagian selatan. Semua pelabuhan tersebut dilindungi oleh pasukan kerajaan.

Untuk urusan politik kerajaan, Salakanagara kerap mengadakan hubungan diplomatik dengan Kerajaan di Cina dan Kerajaan-kerajaan di India. Kerajaan Salakanagara merupakan leluhur Nusantara. Banyak kerajaan-kerajaan besar yang diturunkan oleh Kerajaan ini yaitu, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Kutai dan Kerajaan Sriwijaya. Selanjutnya Kerajaan Tarumanegara menurunkan Kerajaan besar seperti Kerajaan Sunda-Galuh, Kerajaan Kalinga, Kerajaan Mataram Kuno, dan bahkan Kerajaan Majapahit pun yang kedudukannya di Kali Brantas, Jawa Timur merupakan keturunan dari raja-raja Sunda.

BACA JUGA :

Related posts