Sejarah Bandung Lautan Api

Sejarah Bandung Lautan Api

Sejarah Indonesia, Bandung Lautan Api – Sore tanggal 23 Maret 1946 adalah detik-detik menegangkan bagi Jenderal A.H Nasution, Sjafruddin Prawiranegara, Didi Kartasasmita dan ribuan penduduk Bandung. Mereka bertiga harus ke Jakarta menghadap perdana menteri Sjahrir membahas ultimatum dari tentara Inggris atas pengosongan kota Bandung sejauh 11 KM. A.H Nasution sebelumnya meminta Inggris memperpanjang waktu Ultimatum pengosongan, tapi tentara dari negara Ratu Elizabeth itu ngotot, kota harus kosong pada 24 Maret tepat pukul 24.00 Wib.

Saat menghadap Sjahrir, kata sepakat tak kunjung tercapai. Sjahrir membujuk Nasution supaya lekas meninggalkan kota. Sebab, dalam pandangan Sjahrir Pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) belum mampu melawan tentara dari Brigade Macdonald tersebut. Akhirnya pada hari itu juga Nasution kembali ke Bandung. Ia mengumpulkan Komandan TRI, Pasukan Laskar dan jajaran pemerintah kota. Mereka menginisiasikan perlawan terhadap tentara Inggris.

Pukul 21.00 Wib 24 Maret, 3 jam menjelang batas ultimatum Inggris, perlawanan mereka akhirnya terwujud. Nasution dan pasukan TRI membakar gedung-gedung di kota Bandung. Api berkobar di seluruh penjuru bumi parahyangan malam itu. Gedung pertama yang dibakar Bank Rakjat, disusul beberapa gedung di Banceuy, Braga, Cicadas dan Tegallega. Bagi mereka, opsi membakar kota adalah simbol penentangan atas instruksi Inggris. Lagipula, tidak mungkin memindahkan ribuan pasukan dalam jangka waktu yang sangat sempit.

Malam itu, bukan hanya TRI yang meninggalkan kota, masyarakat berbondong-bondong melangkah kakinya menjauhi Kota. Yang tersisa bagi Inggris hanya puing-puing gosong yang tak bermakna. Bandung diterangi api, setelahnya sunyi senyap menyelimuti seluruh penjuru kota.

Seluruh permukaan yang ada mejadi berwarna merah, bahkan langit pun diliputi udara kemerahan. Terjelma ucapan Mayor Rukmana, bahwa “Bandung menjadi Lautan Api”.

Baca Juga :

 

 

Peristiwa Bandung Lautan Api bisa dibilang hanyalah “klimaks” dari serangkaian pertempuran yang dilakukan warga Bandung terhadap sekutu yang membonceng NICA. Peristiwa ini terjadi kurang lebih 8 bulan setelah proklamasi kemerdekaan, sehingga tidak bisa dilepaskan dari kejadian-kejadian sebelumnya.

Drs. HME. Karmas dalam buah karyanya “Sekilas Sejarah Peristiwa Perjuangan Bandung Lautan Api” menjelaskan aksi bumi hangus itu sebagai bentuk kemarahan warga Bandung ketika Inggris secara sepihak mengklaim kawasan di utara jalan kereta api sebagai kawasan mereka, tanpa menyebutkan batas-batasnya di utara sehingga Lembang diterobos kaki tangan NICA. Mereka mengusir penduduk Bandung yang tinggal di kawasan tersebut.

Situasi di Bandung saat itu sebenarnya cukup unik karena pada dasarnya pertempuran tidak terjadi setiap hari melainkan hanya terjadi insiden-insiden provokasi yang cukup mengganggu baik bagi kedua pihak. Pertempuran langsung memang dihindari pejuang karena mereka sadar kekuatan yang dimiliki tidak akan sebanding dengan pasukan Inggris, Belanda dan Gurkha yang memiliki persenjataan lengkap. Tapi dalam satu peristiwa di Ciroyom, persenjataan canggih ini ternyata bisa ‘kalah’ juga.

Pertempuran makin besar, dimana sebuah tank baja Inggris dapat dibakar dan dihancurkan sehingga tak dapat dipergunakan lagi. Keberhasilan ini ternyata ada keterlibatan seorang penarik becak bernama Emen yang dengan keberanian dan rela berkorban demi kemerdekaan negara dan bangsa Indonesia ia melompat ke atas tank seraya menumpahkan bensin dan melemparkan obor api ke dalam kokpit, sehingga tank tersebut meledak tampak menghamburkan api sehingga tank hangus berkeping-keping. Emen sendiri tewas seketika dan jenazahnya tidak menentu.

Tidak hanya rakyat kecil seperti Emen tadi dengan segala keterbatasannya berusaha melawan kekuatan sekutu, kaum wanita pun berupaya menunjukkan sumbangsih mereka terhadap perjuangan kemerdekaan.

Di tempat lain beberapa pejuang berhasil membunuh seorang serdadu Gurkha dan menebas lehernya dengan samurai. Seorang di antara pejuang terdapat gadis bernama Susilawati, seorang perwira dari polisi (Polisi Tentara) yang bermarkas di Jl. Pajagalan, ia yang kemudian mengangkat kepala Gurkha tadi lalu menjinjingnya bahkan dibawa dan diperlihatkan di sepanjang jalan Sudirman, jalan Cibadak menuju pulang ke markasnya di Jalan Pajagalan.

Perjuangan ini bukan hanya dilakukan oleh pemuda bersenjatakan senjata sederhana saja, para pedagang pasar hingga pedagang asongan pun turut berjuang dengan memboikot pembeli dari kawasan Bandung Utara.

Walaupun tampaknya tidak seberapa tapi aksi ini ternyata sangat merepotkan karena akibatnya Inggris harus mendatangkan bahan makanan dari Jakarta. Itu pun tidak mudah karena konvoi logistik seringkali mendapatkan serangan di sepanjang jalan provinsi menuju Bandung.

Satu peristiwa yang paling bersejarah adalah ketika konvoi Inggris berkekuatan besar bisa dihancurkan oleh pejuang dan rakyat Sukabumi di Bojong Kokosan.

Peristiwa itu membuat malu kerajaan Inggris, hal mana dikemukakan dalam sidang Parlemen Inggris, yang langsung memecat menteri Pertahanan Inggris. Mereka kehilangan muka di dunia internasional, mengingat pasukan Inggris yang dikirim ke Indonesia tersebut, adalah pemenang Perang Dunia ke-II yang baru saja mengalahkan pasukan Jerman pimpinan Hitler di medan perang Afrika Utara, tapi terkalahkan oleh yang mereka sebut gerombolan ekstrimis.

Pasukan Inggris yang diantaranya terdiri dari Pasukan Gurkha sedikit banyak membantu perjuangan karena tidak jarang diantaranya yang bersimpati kepada perjuangan pemuda.

Demikianlah sedikit kejadian yang mengantar kepada peristiwa Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret 1946. Emosi Sekutu yang kewalahan atas serangan sporadis pejuang akhirnya memuncak dan mengultimatum masyarakat bersenjata untuk mundur sejauh 11 KM dari batas yang ditentukan.

Ultimatum ini didukung oleh pemerintah pusat yang menginginkan agar pejuang “mengikuti” saja keinginan sekutu guna menghindari jatuhnya korban. Seruan ini direspons TRI dan majelis satuan perjuangan dengan keputusan melakukan strategi bumi hangus yang dikenal sebagai “Bandung Lautan Api”.

Peristiwa tersebut membuktikan tekad segenap penduduk Bandung untuk menolak kembali berada dalam genggaman penjajah. Dengan itu, semangat Bandung Lautan Api menurutku harus dipandang sebagai Semangat Mempertahankan Bandung dari Cengkeraman Asing.

“Lebih baik membumihanguskan Bandung daripada menyerahkannya kembali kepada penjajah”.

Related posts