Sejarah Masuknya Rokok Ke Indonesia

Sejarah Masuknya Rokok Ke Indonesia

sejarahindonesia.web.id Rokok yang menjadi musuh utama bagi kesehatan di Indonesia selalu dibahas tentang kenaikkan harganya. Mereka dibahas apa bila mereka tidak diiinginkan . Namun apa yang sebenarnya menjadi membuat rokok yang menjadi budaya kental di Barat masuk ke Indonesia.

Asal Usul dan Sejarah Masuknya Tembakau di Indonesia
Sejarah tanam paksa rokok di Indonesia sudah sedikit disinggung di atas. Meski perluasan lahan dan perkembangan produksinya merupakan efek dari kebijakan VOC, tapi ternyata tembakau sudah ada di Indonesia sebelumnya.

Asal usul rokok tembakau di Indonesia memiliki sejarah yang simpang siur. Misalnya, di daerah sekitar Dieng dan Gunung Sindoro, masyarakat percaya bahwa bibit tembakau merupakan pemberian Sunan Kudus. Sementara masyarakat Madura percaya bahwa bibit tembakau dibawa oleh orang bernama Ki Ageng Katandur.Belum ada yang bisa menjelaskan dengan tepat sejarah masuknya bahan baku rokok ini di Indonesia. Namun dari relief yang ada di Candi Borobudur, masyarakat Indonesia diperkirakan telah mengenal tembakau sejak abad ke-8. Pada relief tersebut, digambarkan masyarakat yang memiliki kebiasaan nginang atau mengunyah tembakau.

Sementara konsumsi tembakau dengan dibakar diperkirakan sudah ada di Indonesia di akhir 1500-an. Hal tersebut merujuk pada sajak dalam Babad Tanah Jawi yang menceritakan kebiasaan merokok Panembahan Senopati atau Sultan Agung Kerajaan Mataram Islam.Menurut sejarah, tembakau ditanam secara sporadis pada permulaan tahun 1600-an. Penanaman bahan baku dan produksi rokok secara luas kemudian dilakukan VOC di Indonesia pada tahun 1820. Awalnya, perkebunan hanya berada di daerah Surakarta dan Yogyakarta. Namun karena regulasi dari pemerintahan kraton, perkebunan ini sulit berkembang.

VOC pun membuka lahan di daerah-daerah lain dengan memberlakukan tanam paksa pada 1840 dibawah perintah Gubernur Jenderal Van den Bosch. Lahan-lahan tersebut berada di daerah Kediri, Kedu, Klaten, Kudus, Pati, dan Deli. Pada 1860, mereka membuka lahan di Madura, menggantikan tebu karena tembakau dianggap lebih menguntungkan.Perkembangan kebun tembakau seakan tidak berhenti, pada 1910 VOC membuat kebun tembakau besar disertai balai penelitian di daerah Besuki, Situbondo, Jawa Timur. Banyak orang Madura yang saat itu dipaksa meninggalkan kampung halamannya untuk bekerja di tempat tersebut.

Baca Juga : Sejarah Bahasa Pemograman Di Indonesia

Sejarah Munculnya Rokok Kretek di Indonesia
Rokok kretek merupakan produk olahan tembakau yang dicampur dengan cengkih. Nama kretek sendiri diambil dari suara yang dihasilkan saat cengkih terbakar. Di Indonesia, rokok kretek filter merupakan produk yang paling banyak dijual. Kira-kira bagaimana sejarah dan asal usulnya? Simak yuk.Ada dua versi sejarah munculnya rokok kretek di Indonesia. Versi pertama mengatakan bahwa kretek merupakan hasil dari eksperimen yang dilakukan Haji Djamhari, seorang warga asli Kudus yang hidup pada abad 19. Konon, beliau kerap merasakan sakit di bagian dadanya. Untuk mengatasi itu, ia pun mengoleskan minyak cengkih.Ia lalu memiliki ide untuk mencampurkan cengkih ke dalam rokoknya. Awalnya ia hanya mengoleskan minyak tersebut ke daun tembakau sebelum dilinting, lama kelamaan ia juga mencampurkan cengkih kering yang dihaluskan.Versi kedua mengatakan bahwa kretek merupakan kreasi dari seorang pedagang tembakau bernama Mbok Nasilah. Diceritakan bahwa dahulu Mbok Nasilah kesal dengan para kusir yang kerap mengotori warungnya karena membuang sisa nginang sembarangan.

Ia lalu membuat campuran tembakau dan cengkeh lalu melintingnya dengan kulit jagung yang diikat dengan tali. Rokok tersebut disukai oleh para kusir dan lama kelamaan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar Kudus.Pada 1894, Mbok Nasilah menikahi Nitisemito, seorang pengusaha asal Kudus. Nitisemito kemudian pertama kali memasarkan rokok kretek tanpa filter pada 1913 dengan merek Kodok Mangan Ulo. Tiga tahun kemudian, merek tersebut berganti nama menjadi Tjap Bal Tiga.Sejak saat itu, banyak perusahaan dan pabrik rokok kretek bermunculan di Kudus. Beberapa di antaranya, Jangkar, Goenoeng Kedoe, Tebu dan Tjengkeh, Sukun, Padi, Manggis, hingga Djarum yang resmi didirikan pada 1951.Tidak hanya di Kudus, pabrik tembakau juga banyak bermunculan di Jawa Timur. Misalnya di Kediri muncul pabrik Gudang Garam, lahirnya Bentoel di Malang, Sampoerna di Surabaya, dan lain-lain.Tidak hanya itu, kretek pun mengalami perubahan bentuk dan bahan kemasan. Dari klobot yang dibungkus kulit jagung, rokok yang dibungkus kertas, hingga kretek filter yang dibuat dengan mesin pertama kali oleh Sampoerna.

Related posts