Sejarah Penyalahgunaan Lem Aibon

Sejarah Penyalahgunaan Lem Aibon

sejarahindonesia.web.id Lem Aibon memiliki banyak kegunaan dalam kehidupan sehari hari tentu saja sebagai alat yang bisa merekatkan. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Sejarah Penyalahgunaan Lem Aibon. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Sejarah Penyalahgunaan Lem Aibon

Temuan mengejutkan terungkap dalam rencana anggaran Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta. Tercantum alokasi Rp82,8 miliar untuk pembelian lem merek Aibon yang akan dibagikan kepada para pelajar Sekolah Dasar (SD) di Jakarta tahun 2020 mendatang. Adalah William Aditya Sarana yang pertamakali mengungkap kejanggalan dalam anggaran Disdik DKI Jakarta tersebut. Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini menemukan sejumlah keganjilan, termasuk anggaran yang terbilang besar terkait penyediaan lem Aibon, juga peruntukannya yang dinilai tidak tepat.

“Ditemukan anggaran aneh pembelian lem Aibon [sebesar] 82 milliar lebih oleh Dinas Pendidikan [DKI Jakarta]. Ternyata Dinas Pendidikan mensuplai 2 kaleng lem Aibon per murid setiap bulannya. Buat apa?” cuit William lewat akun Twitter-nya, Selasa malam. Melalui keterangan tertulis yang diterima Tirto pada Rabu pagi, William menyampaikan kembali temuannya itu. Politisi muda berusia 23 tahun ini menuntut kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, agar segera memberikan klarifikasi langsung.

“Kemarin saya temukan ada usulan belanja lem Aibon senilai 82 miliar rupiah di Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat. Ini usulan dari mana? Kenapa lem Aibon dan kenapa angkanya besar sekali? Saya minta Gubernur jelaskan, jangan buang badan ke anak buah,” tulis William.Sanggahan datang dari Syaefuloh Hidayat selaku Plt. Kepala Disdik DKI Jakarta. Ia mengaku bahwa anggaran untuk kategori Alat Tulis Kantor (ATK), termasuk lem Aibon, hanya sebesar Rp22 miliar. “Soal belanja ATK, sebenarnya alat tulis kantor seluruh sekolah itu hanya Rp22 miliar. Kami akan lakukan penyesuaian, mudah-mudahan komponen Aibon yang Rp82 miliar itu tidak ada,” elak Syaefuloh kepada reporter Tirto di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu siang.

Penyalahgunaan Lem Aibon
Lem Aibon merupakan salah satu produk unggulan PT Aica Indonesia yang bernaung di bawah perusahaan asal Jepang dan bergerak di bidang industri manufaktur, termasuk dalam pembuatan bahan perekat dan lapisan permukaan untuk interior.Dikutip dari website resminya, lem Aica Aibon adalah perekat serbaguna berkualitas tinggi yang sudah ada sejak tahun 1974. Dalam buku Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia karya Sam Setyautama, disebutkan bahwa PT Aica didirikan oleh Sofjan Wanandi. Demikian pula yang tercatat dalam buku berjudul Jurus & Manuver Politik Taufiq Kiemas tulisan Derek Manangka, bahwa PT Aica Aibon -demikian nama perusahaan yang tertulis di buku ini- merupakan salah satu perusahaan milik keluarga Wanandi.

Sofjan Wanandi adalah salah satu pebisnis nasional tersukses di Indonesia. Sejak 1974 -tahun yang sama dengan produksi awal lem Aibon- ia merintis karier sebagai pengusaha dan mengelola beberapa perusahaan di berbagai bidang, termasuk industri perkapalan, perakitan mobil, asuransi, konstruksi, manufaktur, farmasi dan lain-lain. Lem Aibon tentunya amat bermanfaat jika digunakan sesuai fungsinya, yakni sebagai alat perekat serbaguna. Namun, lem Aibon atau lem merek lain sejenis justru kerap disalahgunakan demi mendapatkan efek memabukkan dengan cara dihirup.Dengan banyaknya kejadian tersebut, bukan hal yang aneh jika William Aditya Sarana mempertanyakan peruntukan lem Aibon yang oleh Disdik DKI Jakarta bakal dialokasikan untuk para pelajar SD.

Baca Juga : Sejarah E Commerce Di Indonesia

Lem Adalah Candu?
Tampaknya sudah menjadi rahasia umum bahwa lem semacam Aibon atau merek sejenis lainnya kerap disalahgunakan sebagai bahan candu, atau dikenal dengan istilah ngelem, bahkan oleh anak-anak di bawah umur. Menurut Kamus Narkoba: Istilah-istilah Narkoba dan Bahaya Penyalahgunaannya (2006) suntingan Yoke Wulansari yang diterbitkan Badan Narkotika Nasional (BNN), ngelem diartikan sebagai “kegiatan menghirup lem”, atau dengan definsi “kegiatan menghirup benda-benda sejenis lem, zat pelarut (tinner, cat), atau zat lain sejenis”.

Masih di buku yang sama, dituliskan bahwa banyak sekali anak jalanan yang melakukan aktivitas ngelem hanya untuk mendapatkan efek high atau mabuk akibat uap yang dihisap dari lem. Odi Shalahuddin dalam buku Di Bawah Bayang-bayang Ancaman: Dinamika Kehidupan Anak Jalanan (2004) menyebutkan, secara umum, penggunaan lem (untuk ngelem/candu) biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berumur di bawah 12 tahun.

The National Institute on Drug Abuse (NIDA) yang dinaungi Kementerian Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat mencatat, lem semacam ini mengandung zat inhalansia yang biasanya dijadikan alternatif yang murah dan mudah diakses ketimbang ganja atau jenis narkotika Menghirup lem sejenis Aibon seringkali dianggap sebagai cara paling gampang untuk memperoleh efek memabukkan. Jika digunakan secara terus-menerus dalam jangka waktu lama, bisa mengakibatkan kecanduan yang tentu saja berdampak buruk bagi kesehatan, bahkan berujung kematian.

Related posts