Sejarah Perang Batavia

Sejarah Perang Batavia

Sejarah Indonesia, Perang Batavia – Mataram adalah kerajaan yang pernah menguasai seluruh Pulau Jawa, kecuali Banten dan Batavia, yang sejak 1619 dikuasai Belanda. VOC yang berusaha menaklukkan daerah kekuasaan Mataram, membuat Sultan Agung gusar.

Sebagai balasannya, Sultan memusatkan perhatian untuk menyerang pusat kekuasaan kompeni: Batavia. Sejak awal 1628 Sultan Agung mengeluarkan perintah: “Melarang penjualan beras kepada VOC. Siapa melanggar larangan ini akan dihukum berat”. Untuk itu dilakukan penutupan (kota pelabuhan) seluruh pantai Jawa. Berdasarkan catatan sejarawan Belanda DR HJ De Graaf (meninggal 1920-an), penutupan (kota pelabuhan) seluruh pantai Jawa dilakukan pada awal 1628.

Selasa 22 Agustus 1628: Panglima Tertinggi Armada Jawa Tumenggeng Baureksa dengan 50 gorab (kapal Jawa) dengan 900 awak kapal yang memuat: 130 ekor ternak, 3600 liter beras, 10.600 ikat padi, 26 ribu butir kelapa, 5.900 batang gula.

Kamis 24 Agustus: tiba tujuh kapal Jawa. Jumat 25 Agustus 1628 tiba lagi 27 kapal Jawa yang memuat ternak.

Awak kapal menyerang penjaga pasar dan benteng VOC yang kala itu belum usai dibangun. Orang-orang Jawa yang berada di luar menyeberangi air dengan jalan kaki dan menggabungkan diri dengan teman-temannya. Mereka maju terus sampai ke balik tembok benteng.

Terjadi pertempuran hingga pagi hari. Pasukan Mataram mundur dan tersisa satu orang dengan tombak di tangan berlari kian kemari berteriak ‘amuk’. Ia ditembak 30 tembakan senapan sebelum menemui ajalnya. Pasukan Mataram mundur dan mendarat di Marunda.

Menurut Andy Alaxsander, pemerhati sejarah/pengguna super impose, benteng Hollandia tempat pasukan Mataram melakukan pengepungan sekarang ini letaknya di sekitar Jl Lodan (Kampung Bandan) – Jl Pinangsia Timur (kala itu bernama Buiten Kaaimanstraat), tidak jauh dari pusat pertokoan Glodok. Dalam pertempuran yang masih terus berlanjut, pasukan Mataram bertelanjang baju dan tanpa alas kaki sedangkan pasukan VOC bertopi baja dan baju perang.

Sabtu 26 Agustus 1628 tiba pasukan besar Mataram dengan kibaran panji-panji di bawah Panglima Temanggung Baureksa dari Kendal. Dalam penyerangan ke Batavia, Mataram mengerahkan sekitar 90 ribu prajurit.

Baca Juga :

 

 

Jalan kaki ke Batavia memerlukan waktu tiga bulan dan dua pekan dengan kapal laut. Pada 10 September 1628 pasukan Mataram memajukan garis pertahanan sampai ‘sejauh tembakan pistol’ dari kota dan sembunyi di barikade kayu dan bambu. Sedangkan meriam dan perlengkapan perang mereka ditarik oleh kerbau (pedati).

Rabu 12 September 1628, 65 orang pasukan Belanda (dilindungi 150 penembak) menyerang ‘baluwarti’ mengusir 200-300 pasukan Mataram. 30-40 pasukan Mataram terbunuh. Orang-orang Cina turut membantu Belanda ikut menyerang dengan semangat dan membakar parit perlindungan Mataram.

Dengan semangat pantang menyerah, Kamis 21 September 1628 semalam penuh pasukan Mataram menaiki dengan tangga atau mendobrak Belanda sampai kehabisan peluru. Belanda menyerang balik dengan 300 serdadu dan 100 orang sipil (terdiri dari Merdicker -orang yang telah dibebaskan dari budak- dan Cina).

Sekitar 1.200-1.300 pasukan Mataram gugur. Sekitar 2.000 sampai 3.000 ditawan. Dari interogasi tawanan diperkirakan 3.000-4.000 masih berkeliaran di hutan mencari makan.

Sabtu 21 Oktober 1628, Komandan Jacques Lefebre dengan 2.886 orang, dua kapal pantai, tujuah sekoci dan kapal berawak 150 orang menyerang dari sungai dan darat. Terjadi pertempuran sengit. Tumenggung Baureksa dan putranya gugur beserta 200 pasukan Mataram.

Tak lama kemudian rombongan baru Mataram tiba dan bergabung dengan sisa pasukan yang tercerai-berai. Hal ini menimbulkan ketakutan di pihak Belanda. Kali ini pasukan Mataram hampir mengalahkan Belanda karena kehabisan peluru. Puluhan pasukan Belanda tewas dan ratusan kehilangan senjata.

Dalam situasi genting seorang sersan VOC mendapatkan siasat gila. Ia memerintahkan bawahannya untuk menyiramkan tinja kepada pasukan Mataram yang berusaha memanjat tembok benteng. Mereka pun lari sambil berteriak, “O, seytang orang Ollanda debakkalay sama tay!”

Karena itu ada yang menafsirkan kata Betawi berasal dari kata ‘tai’ yakni ‘Bautai’. Padahal menurut DR HJ Graaf kalau saja pasukan Mataram meneruskan serangan kemungkin kota Batavia akan mereka rebut.

Panglima pasukan yang baru Tumenggung Sura Agul-Agul dan kedua bersaudara Kiai Dipati Maduredja dan Upa Santa kecewa karena Batavia gagal ditaklukkan. Mataram membendung sungai kira-kira satu mil dari kota mempekerjakan 3.000 orang selama satu bulan. Namun, berjalan lambat karena kelaparan.

Senin 37 November 1628 Benteng Hollandia diserang kembali 400 prajurit Mataram, sebagian besar gugur dan sisanya melarikan diri. Jumat 1 Desember 1628: Tumenggung Agul-Agul memerintahkan mengikat Kiai Dipati Manduredja dan Upa Santra berikut anak buahnya dan ‘melalui pengadilan atas perintah raja Mataram dihukum mati karena tidak bertempur mati-matian dan Batavia gagal ditaklukkan’.

Ahad, 3 Desember 1628 pasukan Belanda menghitung korban eksekusi sebanyak 744 mayat. Menurut Andy Alexsander, eksekusi dilakukan di sekitar RS Husada, Mangga Besar, Jakarta Barat, yang ketika itu masih hutan belukar.

Salah satu sebab kegagalan Mataram di samping persenjataan yang tak seimbang, para leluhur kita ketika itu tidak bisa bertempur dengan sistem Eropa abad ke-18 dengan memanjat tembok kota.

Related posts