Sejarah Perang Jawa

Sejarah Perang Jawa

Sejarah Indonesia, Perang Jawa – Perang Jawa atau sering dikenal dengan Perang Diponegoro adalah sebuah aksi pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro. Aksi pemberontakan ini terlecut setelah residen dari Belanda yang bernama Smissaert menduduki tahta di Keraton Yogyakarta yang sejatinya milik Hamengkubuwana V.

Sepeninggal Hamengkubuwana IV yang kala itu masih berusia 19 tahun, Belanda mulai mengobrak-abrik Keraton Yogyakarta. Mereka bahkan menyebarkan isu bahwa Pangeran Diponegoro ingin naik tahta menjadi Hamengkubuwana V sehingga Smissaert ditunjuk untuk menduduki tahta itu hingga Hamengkubuwana V yang berusia 2 tahun menjadi besar.

Selain permasalahan tahta, marahnya Pangeran Diponegoro sehingga memutuskan hubungan dengan Keraton Yogyakarta juga dipicu masalah pajak dan pembangunan jalan di makam leluhurnya. Kala itu, Belanda memberlakukan aturan baru di mana tanah yang disewa bangsa Eropa harus dikembalikan ke bumiputera. Sayangnya, aturan ini juga mengharuskan bumiputera memberikan kompensasi uang yang cukup banyak kepada penyewa.

Kronologi Jalannya Perang Jawa

Merasa kecewa dengan apa yang dilakukan oleh keluarga Keraton Yogyakarta yang justru pro Belanda, Pangeran Diponegoro memutuskan melakukan penyerangan. Dia mengumpulkan banyak pasukan dengan dibantu Kyai Modjo, Mangkubumi, dan Alibasah Sentot.

Perang yang dilakukan oleh Pangeran Diponegero dan Belanda berlangsung secara terbuka. Setiap kubu akan mengerahkan pasukan-pasukannya mulai dari infanteri, kavaleri, hingga artileri. Kedua kubu akan melakukan serangan secara bersamaan di sebuah desa atau kota hingga salah satu kubu kalah dan desa itu direbut secara mutlak.

Selain melakukan perang secara terbuka. Pangeran Diponegoro juga menggunakan taktik perang yang unik. Dia dan pasukannya akan menyerang gudang pangan dari musuh hingga merusak pos persenjataan. Saat musim hujan tiba, Pangeran Diponegoro gemar sekali melakukan serangan secara tiba-tiba. Biasanya, di kala musim hujan datang, Belanda memilih melakukan gencatan senjata dan mendorong adanya perundingan.

Baca Juga :

 

 

Saat musim penghujan tiba, senjata dari Belanda biasanya akan susah digunakan. Mesiu yang digunakan untuk bom juga tidak bisa berfungsi dengan baik. Selain masalah persenjataan yang jelas merugikan Belanda, para serdadu yang sebagian besar berasal dari Eropa juga rentan sakit. Saat musim hujan tiba, penyakit tropis seperti malaria kerap menghantui dan menyebabkan banyak selai serdadu Belanda sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Akhir dari Perang Jawa

Pada tahun 1827, Belanda mengerahkan pasukan sebanyak-banyak untuk mengepung Pangeran Diponegoro. Selama dua tahun, Belanda berusaha membatasi ruang gerak dari gerilyawan yang sangat menyusahkan hingga beberapa pentolan dari pasukan berhasil ditangkap. Pada tahun 1829 Kyai Modjo ditangkap hampir bersamaan dengan Mangkubumi dan Alibasah Sentot. Setahun berselang, Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro yang sengaja menyerahkan diri.

Pasca penangkapan Pangeran Diponegoro, perang Jawa akhirnya berakhir dengan terbunuhnya 200.000 orang Jawa, 8.000 serdadu Eropa, dan 7.000 pribumi yang membela Belanda karena setia pada Keraton. Oh ya, setelah menyerahkan diri dan ditangkap, Pangeran Diponegoro dibuang ke Manado selama beberapa tahun. Setelah itu, dia dipindahkan ke Makassar dan meninggal dunia di Benteng Rotterdam pada tahun 1855.

Berakhirnya perang Jawa menandakan pula berakhirnya perjuangan bangsawan dalam melawan ketertindasan Belanda di tanah Jawa.

Related posts